metrouniv.ac.id – 20/08/2024 – 15 Safar 1446 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Metro)
Lebih dari satu abad sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 1818, ia terlahir sebagai budak kulit hitam di Maryland, Amerika. Ia beruntung diajarkan membaca oleh istri tuannya. Ia tukarkan jatah makannya dengan bahan bacaan dari anak-anak kulit putih yang miskin. Namun membaca lantas membuatnya guncang. Ia berontak dan melarikan diri ke Utara Amerika. Di sana, ia mendirikan The North Star, sebuah koran untuk melawan perbudakan dan memperjuangkan persamaan hak bagi wanita. Saat ia meninggal di tahun 1895, dunia mengenangnya sebagai reformis, orator, penulis, negarawan, dan simbol perlawanan terhadap perbudakan dan ketidakadilan. Ia adalah Frederick Douglas. Kisah hidupnya seperti menyiratkan tiga anak tangga menuju kemerdekaan: membaca (reading), berpikir (thinking), dan menulis (writing). Meski kini satu abad lebih telah berlalu, pelajaran kehidupan yang ia patrikan, terdengar masih relevan.
Membaca adalah anak tangga pertama menuju kemerdekaan. Biasanya bermula dari belajar membaca, lalu membaca acak teks yang ditemui, hingga membaca fokus terkait tema atau pengarang tertentu (narrow reading). Pembacaan terfokus tidak selalu mudah, apalagi jika sudah menyangkut konten-konten yang ‘berat’ dan spesifik. Untuk itu, strategi interval reading seringkali cukup membantu menyelami konten-konten yang berat itu. Caranya, mulailah membaca 10 menit, lalu istirahat 5 menit. Lalu teruskan membaca 20 menit, dan istirahat 10 menit. Lanjutkan kembali membaca 30 menit, lalu istirahat 15 menit. Lakukan berulang, semoga saja membantu. Jika tidak cocok, carilah strategi yang lebih sesuai. Menggunakan strategi berarti menemukan cara yang ‘bekerja’ paling baik. Apa pun strateginya, ia sesuai ketika kita membatin: “Saya ingin tahu lebih banyak.” (I want to know more); “Saya ingin membaca lebih banyak.” (I want to read more); atau “Semakin banyak saya membaca, semakin saya sadari ketidaktahuan saya.” (The more I read, the less I know).
Berpikir adalah anak tangga kedua. Berpikir dan membaca adalah ibarat dua ujung tongkat yang sama. Orang bisa memulai dari membaca dan berakhir dengan berpikir. Orang juga bisa memulai dengan berpikir dan berujung dengan kegiatan membaca. Kemampuan berpikir cenderung ditentukan oleh tujuan membaca: Apakah untuk mencari informasi tertentu? Apakah untuk menghibur diri? Apakah untuk mengaitkan informasi dari satu sumber dengan sumber lain? Apakah untuk mengkritisi isi bacaan? Apakah untuk berdialog dengan isi bacaan? Apakah untuk membangun seteru dengan teks? Atau apakah untuk bahan membuat sebuah tulisan? Setiap tujuan akan menjadi ancangan yang melontarkan pembaca ke titik berpikir yang berbeda.
Menulis adalah anak tangga ketiga. Ia adalah titik lontaran terjauh dari kegiatan membaca dan berpikir. Karena terjauh, ia menjadi yang tersulit dibanding menyimak, berbicara, dan membaca. Jika menengok ke tradisi Islam, ada kepercayaan tentang tinta para ulama yang lebih harum dari darah para syuhada. Tinta adalah simbolisasi karya tulis bermutu tinggi, yang karenanya keterampilan menulis mutlak diperlukan. Tinta adalah juga perlambang pengetahuan yang bermanfaat, sehingga kemampuan berpikir menjadi sebuah prasyarat yang pasti. Jadi, tulisan yang harumnya melebihi darah para syuhada, patutnya bukan hanya tulisan. Bukan pula sejenis dan sekedar tulisan. Ia adalah tulisan yang diawali oleh pembacaan mendalam dan pemikiran kritis.
Kini, di tengah semarak perayaan, patut diduga keras bahwa para founding fathers dan syuhada kita, dapat merebut kemerdekaan Indonesia, salah satunya, karena ketangguhan mereka dalam membaca, berpikir, dan menulis. Ragam ketangguhan yang mungkin sebaiknya juga diperlombakan pada perayaan hari kemerdekaan. Akhirnya, ijinkan penulis mengakhiri ini dengan guratan yang terinspirasi dari Frederick Douglas:
Reading is the weapon of the poor
Membaca adalah senjata bagi si miskin
The poor become rich when they read quality materials
Si miskin menjadi kaya bila membaca materi berkualitas
Writing is the weapon of the weak
Menulis adalah senjata bagi si lemah
The weak become strong when they write well
Si lemah menjadi kuat bila menulis dengan baik
Reading and writing are two golden wings
Membaca dan menulis adalah dua sayap emas
The wings are pathways to freedom
Dua sayap pembentang jalan menuju kemerdekaan
Take the wings, you will start flying high
Gunakan keduanya, engkau kan terbang tinggi
Leave the wings, you will crawl on earth
Abaikan keduanya, engkau kan merangkak di tanah