Seorang mahasiswa
bertanya : Apa itu Simulacra? Agak sukar menjelaskannya, karena ini berhubungan
dengan kajian sosial dan media di era Post Modernisme. Namun demikian, barangkali beberapa ilustrasi
berikut ini dapat digunakan untuk memudahkan memahaminya.
Beberapa
waktu yang lalu dunia selebrita tanah air dihebohkan dengan berita kasus
rencana perceraian dan saling tuduh suami dan istri mengenai harta gono gini
dan merembet ke persoalan lain yang selama ini tertutup rapat-rapat di muka publik.
Selebrita tersebut adalah seorang pengacara kondang yang sudah malang melintang
menjadi lawyer dalam kasus-kasus besar dan kasus orang-orang ternama. Persoalan-persoalan
privat (pribadi) yang selama ini tertutup rapat diumbar ke publik. Si istri
menuduh suaminya telah memasang tembok pagar, mengunci pintu rumah dan melarang
istrinya masuk ke dapur serta mengambil alih kepemilikan tanah yang merupakan
warisan ibunya. Si suami menuduh istrinya telah berselingkuh dengan seseorang
dan sudah jauh-jauh hari mengingatkan agar tidak melakukan itu, namun ia
menilai istrinya tidak menghiraukannya. Si istri bahkan menyampaikan bahwa
sudah hampir delapan tahun sebagai suami iastri mereka sudah pisah ranjang dan
tidak tidur bersama.
Padahal
sebelum kasus prahara rumah tangga ini mencuat, sosial media pasangan suami
istri ini dipenuhi dengan postingan dan tayangan yang menggambarkan betapa
mesra dan bahagianya pasangan ini. Betapa tidak, istrinya cantik dan anggun,
suaminya seorang advokat ternama, tampan dan kaya. Banyak orang iri dan
mendoakan agar pasangan ini langgeng dalam mengarungi bahtera rumah tangga
hingga kaken-kaken dan ninen-ninen. Sosial medianya penuh dengan postingan
kemewahan, kekayaan, kecantikan dan ketampanan, tempat-tempat wisata yang
mahal, anak cucu yang tampan dan jelita dan berkelas serta tentu saja
puja-pujian netizen. Namun begitu muncul permasalahan antara suami istri
tersebut, masyarakat dibuat terkaget-kaget dan seolah tidak percaya dengan apa
yang terjadi.
Setiap hari
kita disuguhi dengan hirup pikuk sosial media sebagaimana tersebut, meskipun
ceritanya tidak selalu dramatis seperti kasus selebritas di atas. Ada orang
yang setiap hari memposting kehidupan pribadinya, sedang dimana, dengan siapa,
dengan apa dan memakai apa. Biasanya digambarkan dalam situasi yang mewah,
membahagiakan dan mengesankan. Foto
terbaiknya ditampilkan walau terkadang tidak sesusi dengan aslinya. Ada yang
gandrung dengan kehebatan dirinya, maka dia posting sedang mengisi acara dimana,
seminar dengan siapa, berfoto dengan orang-orang hebat, para pejabat dan
orang-orang terkenal. Untuk semua itu ada yang wajar-wajar saja tetapi ada juga
yang over dosis sehingga terkesan “memuakkan” (mohon maaf).
Ada cerita
lucu. Ini cerita dalam sebuah group whatsapp pejabat setara eselon II. Saya ada
di dalamnya. Biasa setiap pergantian jabatan di lembaga tertentu, maka pejabat
lama undur diri dari group dan pejabat yang baru dimasukkan dan dikenalkan.
Suatu saat ada pejabat baru dimasukkan dan diperkenalkan lengkap dengan nama
dan fotonya. Pejabat baru itu perempuan. Fotonya cantik dan fotogenik. Komentar
di group riuh, aduh cantiknya ingin segera ketemu, group jadi semakin berwarna,
dan macam-macam komentarnya. Suatu saat
dalam sebuah acara pertemuan secara offline salah seorang kawan berbisik
ke telinga saya : “ kok aslinya tidak seperti fotonya ya”. Maksud kawan saya
itu mengapa aslinya tidak secantik dengan
foto yang diposting. Dia merasa tertipu, mungkin yang lain juga.
Masih ingat,
gugatan seorang calon anggota legislatif dari Nusa Tenggaran Barat kepada calon
lain ke Mahkamah Konstitusi dalam pemilu 2019 lalu. Calon yang digugat itu
calon terpilih dan yang menggugat calon yang tidak terpilih. Yang bikin tertawa
materi gugatannya. Penggugat menilai terpilihnya si tergugat dalam pemilu
legislatif hanya dikarenakan gambar foto di baliho dan di media kampanyenya
terlalu cantik dan tidak sesuai dengan aslinya. Ia menilai tergugat telah
melakukan kebohongan publik dengan menampilkan foto yang terlalu cantik dan
tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Pemilih terpesona dengan gambar
yang cantik itu sehingga ia memperoleh suara terbanyak dan melenggang ke
senayan. Penggugat minta kepada MK agar membatalkan kemenagannya karena telah berbohong
kepada masyarakat. Endingnya gugatan penggugat ditolal MK dan calon anggota
legislatif yang fotonya terlalu cantik itu tetap dinyatakan sah kemenangannya.
Jean Baudrillard
Adalah
seorang filosof Perancis, bernama Jean Baudrillad yang menulis sebuah buku
berjudul Simulacres et Simulation (1981).
Pada tahun 1983 buku ini diterjemahkan Paul Foss, dkk dalam Bahasa Inggris
dengan judul Simulacra and Simulation. Penjelasan mengenai simulacra ada
dalam buku ini. Jean Boudrillar adalah seorang pakar teori kebudayaan, filsuf
kontemporer, komentator politik, sosiolog dan fotografer. Karya Baudrillard
sering dikaitkan dengan pascamodernisme dan pascastrukturalisme.
Simulacra
adalah sebuah dunia yang terbangun dari bercampurnya antara nilai, fakta,
tanda, citra dan kode (Lihat Dalam Naomi Indah Sari, Simulacra, 2017).
Dengan demikian simulacra adalah suatu kebohongan berupa tanda, atau image yang
dibangun seseorang yang memiliki sifat pada kontennya yang jauh dari realitas
asli orang tersebut.
Contohnya
sebagaimana sudah diilustrasikan di atas. Contoh lain, misalnya ada seseorang
yang dalam realitas hidupnya berdosa dan kurang bermoral, namun melalui akun
pribadinya di sosial media , dia bisa saja memposting hal-hal yang bersifat
religious mulai dari gambar, foto, atau ayat-ayat dari Kitab Suci. Dalam hal
ini orang tersebut sedang melakukan suatu simulasi yang berbeda dengan realitas
dirinya yang asli. Inilah yang disebut dengan simulacra. Ada orang yang begitu
hebat gagasan-gagasannya, ide-idenya, kelihatan sangat bernoral dan
berintegritas, dan semua itu ia post di
sosial medianya, namun kenyataannya ia tidak sehebat dan berperilaku tidak bermoral dalam kehidupan
kesehariannya. Ada orang yang keluarganya kelihatan harmonis dan berbahagia
ketika di sosial media, namun kenyatannya ia hidup seperti dalam neraka di
rumahnya. Orang-orang tersebut sedang membangun citra, menampakkan realitas
semu dan tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Ia sedang melakukan
simulasi yang berbeda dengan realitas, Itulah simulacra.
Dari Simulacra ke Hiperrealitas
Dalam
simulacra ada istilah yang disebut Hyppereal, dimana hyppereal ini merepresentasikan
fase-fase yang lebih berkembang dalam pengertian bahwa pertentangan antara yang
nyata dan yang imajiner ini dihapuskan. Dalam hal ini ada istilah yang saling
berkait, yaitu simulasi, simulacra, dan hipperealitas.
Simulasi
berarti tiruan, maksudnya adalah realitas tiruan yang masih mengacu pada
realitas yang sesungguhnya. Sedangkan simulacra adalah realitas tiruan yang
tidak lagi mengacu pada realitas yang sesungguhnya. Artinya realitas
sesuangguhnya sudah dibelokkan yang kemudian benar-benar ditutup dari acuannya.
Akan tetapi, realitas ini belum sepenuhnya sempurna dikatakan realitas yang benar-benar
real, karena hubungan timbal balik atau interaktif belum terjadi. Atau bisa
disebut semi realitas. Yang terakhir yang disebut hipperealitas, inilah yang
disebut dengan sebagai realitas yang benar-benar real, bahkan di atas yang
real, yang nantinya akan menggantikan yang real sebelumnya.
Hipperrealitas
adalah adalah sebuah dekonstruksi dari realitas real sebelumnya karena realitas
ini akan sangat benar-benar berbeda dari sebelumnya. Hipperealitas adalah
keadaan runtuhnya realitas, karena telah diambil alih oleh rekayasa virtual
yang dianggap lebih nyata dari realitas itu sendiri, sehingga perbedaan
keduanya menjadi kabur. Sedangkan perbedaan antara fase simulacra dengan fase
hipperealitas terletak pada cirinya yang interaktif. Yakni, hal-hal yang
tadinya hanya dapat dilakukan dalam realitas real, kini telah tergantikan dalam
realitas virtual. Baudrillad mengatakan bahwa kesadaran akan yang real di benak
khalayak semakin berkurang dan tergantikan dengan realitas semu. Kondisi ini
disebabkan oleh imaji yang disajikan media secara terus menerus . Khalayak
seolah-olah tidak bisa membedakan antara yang nyata dan yang ada di layar.
Khalayak seolah-olah berada diantara realitas dan ilusi sebab tanda yang ada di
media sepertinya telah terputus dari realitas.
ini yang dalam bahasa agama disebut sikap Hipokrit (Nifaq)..?. Wallahua’lam
bishawab.