Tentang Introduction Jurnal

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 16/06/2024 – 9 Dzulhijjjah 1445 H

Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Metro)

 “Be stubborn about your goals but flexible about your methods”

(Motivational quote)

Mungkin kita pernah mendengar: bagian pendahuluan (latar belakang, introduction) karya ilmiah tidak memerlukan kutipan teoritis. Karena kutipan semacam itu tempatnya di bagian landasan teori (theoretical review). Tidak salah. Namun pandangan semacam itu patut dipertimbangkan ketika kita menulis bagian introduction sebuah jurnal.

Alkisah, salah satu tujuan (goal) utama dari bagian introduction jurnal adalah enlarging the existing repertoire. Yaitu, menambahkan sesuatu yang baru terhadap bangun pengetahuan yang ada (existing). Biasanya, di titik ini, seorang penulis jurnal perlu menjawab dua pertanyaan dasar: What is lacking? dan What needs to be added? Apa yang kurang dari penelitian yang sudah ada? Apa yang bisa ditambahkan terhadap hasil studi yang telah ada? Narasi jawaban terhadap dua pertanyaan tersebut, bisa beragam dari segi komponen dan jumlah paragraf.

Ada introduction yang memuat empat komponen yang disebut dengan fakta sosial, fakta literatur, tujuan tulisan, dan argumen atau hipotesis. Keempat komponen tersebut biasanya dituangkan ke dalam empat paragraf, di mana setiap paragraf mewakili setiap komponen. Penulis menggunakan skema ini dalam naskah berjudul Integrating Qur’anic Stories into English Language Teaching: Voices from Indonesia, yang diterbitkan pada Jurnal GJAT,  terindeks Scopus, pada Juli 2021.

Ada juga introduction yang menyajikan tiga komponen saja, yaitu urgensi (sense of crisis), rumpang penelitian (research gap), dan kontribusi. Tiga komponen ini dapat dituangkan ke dalam tiga sampai empat paragraf. Penulis pernah mencoba skema ini pada artikel berjudul Literature-Based reading material for EFL students: a case of Indonesian Islamic University, yang diterbitkan pada Jurnal Internasional Bereputasi (JIB) bernama XLinguae pada tahun 2019.

Ada dua temuan, yang mungkin kecil namun penulis kira cukup mencerahkan, terkait dengan bagian introduction jurnal. Pertama, introduction bisa disajikan dalam hanya satu paragraf. Tengoklah artikel berjudul Environmental Literature as Persuasion: An Experimental Test of the Effects of Reading Climate Fiction, yang terbit tahun 2020, pada sebuah jurnal bergengsi bernama Environmental Communication. Bagian introduction artikel tersebut hanya memuat satu paragraf dengan jumlah kata yang kurang dari 150. Meski singkat, introduction tersebut memuat jawaban terhadap dua pertanyaan dasar: apa yang kurang dari, dan apa yang perlu ditambahkan pada the existing studies. Kedua, bagian introduction pada naskah-naskah JIB, hampir selalu bertabur referensi yang memadai. Ini patut menjadi model untuk penulisan skripsi dan tesis.

Syahdan, jika skripsi atau tesis mahasiswa diproyeksikan untuk publikasi jurnal, bagian pendahuluan atau latar belakang (introduction) sebaiknya ditopang dengan referensi yang solid. Kecuali itu, kualitas bagian introduction tidak dinilai berdasar banyaknya paragraf, melainkan atas narasi jawaban terhadap what is lacking and what needs to be added. Toh akhirnya, pembaca kritis akan lebih memerhatikan ketercapaian tujuan daripada metode penyajian. Seperti pesan kutipan di awal tulisan: terhadap tujuan, kita perlu keras kepala; dan terhadap cara mencapai tujuan, kita sebaiknya flesksibel. Kini, apakah Anda ingin mencoba menulis bagian introduction yang terdiri dari satu paragraf saja?

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.