Tentang Siklus

bg dashboard HD

“What hurts you blesses you.”
Luka yang kau alami, menyimpan berkah yang belum kau mengerti.
(Rumi)

metrouniv.ac.id – 16/08/2026 – 3 Rabiul Awal 1448 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)

Hidup penuh dengan siklus. Ada siklus yang bisa usai dalam satu semester, ada yang berakhir satu tahun,  ada yang berlangsung panjang melintas generasi, dan ada yang berlangsung sepanjang masa: seperti luka dan berkah. Namun, mengapa ada siklus? Seberapa penting pengetahuan tentang siklus? Sebelum itu, disajikan uraian ringkas beberapa contoh siklus.

Pertama, siklus  dalam penelitian tindakan kelas (classroom action research). Sebuah siklus yang mungkin selesai dalam satu semester. Karena siklusnya terdiri dari empat langkah: planning, acting, observing, dan reflecting (PAOR). Mula-mula, guru menemukan ada masalah di pembelajaran. Dari situ lahir rencana tindakan (planning). Rencana itu lalu dilaksanakan (acting). Lalu, guru-peneliti mengobservasi (observing) proses dan hasil pelaksanaan. Hasil observasi dianalisis secara reflectif (reflecting). Jika masih ada aspek yang perlu ditingkatkan, dan pasti akan selalu ada, sang guru-peneliti bisa melakukan re-planning. Atau kembali ke langkah awal. Secara makro, PAOR bukan semata siklus dalam penelitian. Ia adalah ritual intelektual untuk tidak lekas puas dengan pencapaian pertama.

Kedua, siklus PPEPP dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). PPEPP adalah siklus inti dalam mengoperasionalkan SPMI. Penggiat borang akreditasi, paham betul tentang lima tahapan itu. Yaitu, Penetapan-Pelaksanaan-Evaluasi-Pengendalian-Peningkatan (PPEPP). Kelima tahapan itu bisa dirampungkan dalam satu tahun. Penetapan bertanya: ke mana kita hendak pergi? Dijawab melalui dokumen Renstra, Perjanjian Kinerja (Perkin), Indikator Kinerja Utama (IKU), hingga Indikator Kinerja Tambahan (IKT). Pelaksanaan bertanya: apa yang telak kita kerjakan? Terjawab melalui dokumen laporan kegiatan. Evaluasi bertanya: sejauh mana kita telah sampai? Jawabannya ada pada laporan Audit Mutu Internal (AMI). Pengendalian bertanya tentang: apa yang harus kita perbaiki? Jawabnya terlihat pada laporan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM). Peningkatan bertanya tentang: bagaimana caranya untuk mencapai standar, kualitas, atau dampak yang lebih tinggi? Ghalibnya, jawaban mencakup benchmarking, workshop, dan pelatihan. Di situ terlihat esensi sebuah siklus. Siklus memang berputar untuk kembali ke tempat yang sama, namun bukan ke kondisi yang sama. Ia berputar agar mutu bergerak naik. Siklus ada untuk peningkatan dan pengembangan.

Ketiga, siklus SPPLDR. Siklus peradaban yang diadopsi dari Ibnu Khaldun, cendikiawan Muslim yang punya multikepakaran. S (solidarity) adalah fase di mana sekelompok orang menjadi kuat karena memiliki nasib dan tujuan yang sama. P (power) atau kekuasaan yang lahir dari solidaritas yang solid. P (prosperity) adalah kemakmuran sebagai imbas dari kekuasaan. L (luxury) atau gaya hidup mewah setelah mecapai kehidupan makmur. D (decline) atau fase kemunduran atau keruntuhan yang terjadi akibat gaya hidup hedon. R (replacement) atau pergantian, yang bermakna munculnya kelompok lain dengan solidaritas yang lebih solid, menggantikan kelompok yang telah runtuh.

Siklus SPPLDR, tidak berlangsung satu semester atau satu tahun. Ia melintas generasi. Dari siklus ini lahir empat tipe generasi: perintis, pembangun, penikmat, dan perusak. Generasi perintis memulai perjuangannya dalam keterbatasan dan dengan kegigihan. Generasi pembangun mengubah perjuangan menjadi kemakmuran. Generasi penikmat memanen hasil kerja generasi sebelumnya. Dan, generasi perusak adalah yang menghancurkan semua pencapaian. Itu terjadi karena mereka tidak lagi mengenal ‘harga’ dan ‘historisitas’ dari apa yang mereka nikmati.

Lalu, mengapa ada siklus? Seberapa penting pengetahuan tentang siklus?

Mungkin, agar manusia sadar bahwa kehidupan tidak selalu bergerak lurus. Kehidupan berputar dan berulang, bergulir dan bergilir. Pengetahuan tentang siklus penting bukan agar manusia mendapatkan kepastian. Namun agar manusia mencermati sebuah pola dasar. Pola yang menceritakan bahwa kegagalan menyimpan potensi keberhasilan, bahwa kesalahan dapat membuka jalan bagi perbaikan, bahwa sebuah akhir kerap menjadi sebuah permulaan. Bahwa luka bisa menjadi sebuah berkah, dan sebaliknya. Memahami siklus berarti membaca tanda-tanda sebelum sejarah kembali mengulang dirinya. Memahami siklus membantu manusia belajar dari masa lalu (past), bertindak arif dan bijak pada masa kini (present), dan mempersiapkan masa depan (future).

Jikalah sejarah harus berulang, semoga kita kembali ke tempat yang sama dengan kondisi yang lebih istimewa. Jikalah kita harus kembali mengalami luka, semoga Allah swt menuntun kita memahami berkah di baliknya. Al-ahammu, jika kehidupan kita lebih baik dari generasi sebelumnya, semoga kita tidak menjadi generasi perusak, seperti yang disinyalir oleh Sosiolog Muslim yang agung itu.  Ila ruhi  Ibnu Khaldun wa Rumi, lahumal fatihah. Tabiik

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.