metrouniv.ac.id – 11/10/2025 – 18 Rabiul Akhir 1447 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Ketua Senat/Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Apakah ada orang yang zalim pada dirinya sendiri?. Bukankah umumnya orang itu zalim kepada orang lain, bukan kepada dirinya sendiri. Ternyata ada. Al-Qur’an menyebutkan ada orang yang justru zalim kepada dirinya sendiri (zalimun li-nafsih). Keterangan tersebut dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Fatir ayat 32. Bunyi ayatnya sebagai berikut:
ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَاۚ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚوَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚوَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُۗ
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (QS.Fatir: 32)
Dalam surat Fatir ayat 32 tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa ada tiga sikap golongan manusia terhadap warisan Allah yang berupa kitab Al-Qur’an yang berisi perintah, larangan dan petunjuk. Kelompok pertama disebut dengan zalimun li nafsih atau kelompok yang menganiaya dirinya sendiri. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak taat terhadap perintah-perintah Allah dan terhadap larangan-Nya justru dilanggarnya. Kelompok kedua disebut dengan Muqtashidun (pertengahan).Mereka ini adalah kelompok yang adakalanya mematuhi perintah Allah dan adakalanya melanggarnya. Terkadang berbuat baik, namun acapkali juga berbuat dosa dan maksiat. Sementara kelompok ketiga disebut dengan Saabiqun bilkhoirat (kelompok yang segera berbuat kebaikan). Mereka adalah orang-orang bersegera menunaikan apa yang diperintahkan Allah dan terhadap segera larangan ia meninggalkannya. Kebaikannya lebih banyak dibandingkan dengan perbuatan dosa dan maksiat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata zalim berarti bengis, tidak menaruh belas kasihan, tidak adil, kejam. Kezaliman berarti kebengisan, kekejaman, dan ketidakadilan. Dengan demikian orang yang zalim kepad diri sendiri berarti orang yang bengis, tidak kasihan, kejam dan tidak adil kepada diri sendiri. Sikap zalim kepada diri sendiri laksana sikap menyakiti dan melukai diri sendiri tetapi tidak secara fisik tetapi secara ruhani.
Secara khusus, orang-orang yang memiliki sikap zalim kepada diri sendiri ciri-cirinya adalah sebagai berikut. Pertama adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya sehingga ia terjerumus pada sikap melanggar larangan dan ketentuan Allah SWT. Contoh dari sikap ini adalah yang pernah dilakukan oleh Nabi Adam alaihi salam dan Hawa. Mereka berdua telah dilarang oleh Allah SWT agar tidak mendekati buat terlarang yaitu buah Khuldi. Namun karena mereka tidak bisa menahan hawa nafsu, maka larangan Allah itu pun dilanggarnya. Sebagai hukuman, maka Allah mengusir mereka berdua dari surga. Setelah diusir itulah akhirnya mereka sadar dan memohon ampun kepada Allah atas sikap zalim kepada diri sendiri yang mereka lakukan seraya berdoa:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS.Al-A’raf: 23).
Kedua, ciri sikap yang dihubungkan dengan zalim kepada diri sendiri adalah orang-orang yang angkuh, sombong, takabur dan merasa paling benar serta menolak kebenaran dari orang lain. Gambaran dari sikap ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat 44 yang berkisah tentang keangkuhan Ratu Balqis dari negeri Saba. Ratu Balqis adalah ratu penguasa negeri Saba yang sangat mashur. Rakyatnya makmur dan sejahtera, kekuasaanya sangat besar dan ia memiliki istana pemerintahan yan sangat megah dan mewah. Ratu Balqis menganggap tidak ada negeri dan istana yang paling besar dan megah selain negeri Saba dan dirinya. Timbulah rasa sombong dan angkuh pada diri Ratu Balqis. Mereka adalah negeri penyembah matahari.
Karena rasa angkuh itu, ketika Nabi Sulaiman alaihi salam mengajak Ratu dari negeri Saba itu untuk menjadi pengikut agama Tauhid yaitu hanya menyembah kepada Tuhan Yang Esa, yaitu Allah SWT, maka Ratu Balqis menolaknya. Sampai suatu saat Nabi Sulaiman mengundang Ratu Balqis ke istananya. Ketika masuk ke istana Sulaiman, Ratu Balqis sampai terheran-heran seperti tidak percaya.
قِيْلَ لَهَا ادْخُلِى الصَّرْحَۚ فَلَمَّا رَاَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَّكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَاۗ قَالَ اِنَّهٗ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنْ قَوَارِيْرَ ەۗ قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ
“Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana.” Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. An-Naml: 44).
Ratu Balqis yang merasa angkuh dan sombong karena kebesaran kekuasaan dan keindahan istananya ternyata begitu membandingkan dirinya dengan kebesaran dan keindahan istana Nabi Sulaiman ia tidak ada apa-apanya. Maka kemudian ia sadar dan mengatakan “Inni zolamtu nafsi Wa aslamtu ma’a Sulaimana lillahi Rabbil ‘alamiin”. Sungguh aku telah zalim kepada diriku, dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Dengan demikian orang-orang yang angkuh, takabur dan sombong baik karena kekuasaan, kekayaan, dan kekuatannya kemudian menolak kebenaran, maka termasuk dalam golongan orang yang zalim kepada dirinya sendiri.
Ketiga, orang-orang yang zalim kepada dirinya sendiri adalah orang yang menzalimi orang lain. Suatu kezaliman yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain hakikatnya adalah bentuk kezaliman pada diri sendiri. Bentuk-bentuk ketidakadilan, kekejaman dan rasa tanpa belas kasihan kepada orang lain akibatnya akan kembali juga kepada pelaku kezaliman tersebut. Gambaran tersebut dapat dipahami dari doa Nabi Musa alaihi salam yang termaktub dalam surat Al-Qashah ayat 16:
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
“Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Qashas: 16).
Ayat di atas berhubungan dengan kisah tentang peristiwa ketika Nabi Musa melakukan pembunuhan terhadap seorang Qibti. Tatkala Musa menolong kawannya yang dianiaya oleh seorang Qibti pengikut Fir’aun. Musa memukul orang tersebut dan berakibat orang itu tewas, sehingga Musa sangat menyesali perbuatannya tersebut. Lalu Musa pun berdoa sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampun kepada Allah. Bunyi doanya sebagai tersebut dalam Al-Qashas ayat 16 di atas. Pukulan yang tidak dimaksudkan untuk melukai atau membunuh itu sesungguhnya hanya untuk memberikan pelajaran kepada orang Qibti tersebut, ternyata membuat ia terbunuh. Musa begitu merasa bersalah dan menyesali perbuatannya.
Allah melarang manusia bersikap zalim kepada diri sendiri lebih-lebih kepada orang lain. Meskipun demikian, jika ada manusia terlanjur melakukan kezaliman maka Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk bertobat dan memohon ampunan kepada-Nya. Demikianlah yang dilakukan oleh Adam dan Hawa, Ratu Bilqis dan Nabi Musa. “Dan barang siapa yang berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa:110). Semoga Allah menjauhkan kita dari sikap zalim kepada diri sendiri dan juga kepada orang lain. (mh).