ARMUZNA (Bagian Keempat)

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 17/06/2024 – 10 Dzulhijjah 1445 H

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

Setelah melaksanakan Wukuf di Arofah, menjelang tengah malam jamaah haji berpindah ke Muzdalifah untuk bermalam di sana. Panitia haji telah menyiapkan ribuan bus untuk memindahkan jutaan manusia dari arofah ke Muzdalifah. Jamaah haji yang lanjut usia dan memiliki resiko tinggi karena berbagai penyakit juga dipindahkan ke sana. Hanya mereka tidak turun di Muzdalifah hanya melewatinya secara perlahan atau berhenti beberapa saat tanpa turun bus lalu kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina. Inilah yang namanya Murur. Sementara jamaah haji yang sehat, langsung turun dari bus dan menempati tempat yang sudah disiapkan untuk bermalam.

Sabtu, 9 Dzulhijjah 1445 H/ 15 Juni 2024 M

22.00. Jamaah haji secara bergelombang diturunkan dan menginap di Muzdalifah. Ada juga jamaah haji yang berjalan kaki di Arofah ke Muzdalifah. Jarak antara Arofah ke Muzdalifah kurang lebih sembilan kilometer. Di Muzdalifah sambil menginap jamaah haji.memperbanyak talbiah, dzikir dan berdoa. Proses pergerakan jamaah haji dari Arofah ke Muzdalifah bisa sampai tengah malam. Jamaah haji yang sampai duluan, setelah tiga empat jam menginap harus sudah siap-siap ke Mina untuk mabit di sana.

00.10. Jamaah haji secara bergelombang mulai bergerak ke Mina. Jutaan manusia kembali secara bertahap harus diangkut ke Mina dengan menggunakan bus. Di Mina jamaah haji ditempatkan di tenda-tenda yang sudah disiapkan oleh pemerintah Arab Saudi. Jamaah haji kloter CKG 33 Kota Metro ditempatkan di Maktab 21 Mina. Tenda-tenda di Mina dibangun dengan ukuran lebih kecil sekitar 10 x 10 M2. Tenda seluas itu diisi sekitar empat puluh orang sampai lima puluh orang. Tendanya ber-AC dan dilengkapi dengan kasur tipis ukuran 40 x 180 CM dan bantal tipis. AC memang kurang dingin sehingga dengan udara Arab Saudi yang begitu panas banyak jamaah yang mengeluh kegerahan.

02.00. Dini hari sebelum sempat istirahat yang cukup di Mina, jamaah haji harus sudah siap-siap untuk melengkapi Jumroh Aqobah tanggal 10 Dzulhijjah. Seluruh jamaah haji kloter CKG 33 malam itu berangkat ke Jamarat (tempat melempar jumroh). Tidak lupa membawa batu kecil sebanyak tujuh buah. Batu-batu kecil yang dikumpulkan dari Muzdalifah itu digunakan untuk melempar jumroh. Jarak antara maktab di Mina ke jamarat kurang lebih sekitar tiga sampai empat kilometer. Di tengah keletihan yang sangat itu, jamaah haji melontar jumroh dan harus berjalan kaki sepanjang empat kilometer. Benar-benar sangat melelahkan. Namun hal itu hilang karena semangat untuk mendapatkan ridlo Allah SWT semata.

04.15. Proses melempar jumroh aqobah selesai pas masuk waktu shalat subuh, maka langsung melaksanakan shalat subuh di sekitar jamarat. Tidak ada tempat khusus untuk shalat subuh, jamaah manfaatkan pinggir-pinggir jalan di jamarat untuk shalat. Dengan rasa letih jamaah kembali ke tenda di Mina untuk beristirahat dan mempersiapkan diri dan fisik untuk melempar jumroh di hari-hari Tasriq tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Untuk diketahui bahwa ibadah melempar jumroh menurut ketentuan dilakukan tiga hari yaitu tanggal 10, 11 dan 12 Dzulhijjah bagi yang mengambil Nafar awal dan empat hari, yaitu tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, bagi yang mengambil Nafar tsani.

Pelaksanaan Wukuf, mabit di Muzdalifah dan mabit di Mina dengan seluruh rangkaian ibadahnya betul-betul membutuhkan fisik yang prima. Hampir kurang lebih lima hari lima malam proses ibadah haji di Armu tidak hanya membutuhkan hati dan kesiapan mental yang baik tetapi juga kesiapan fisik. Belum lagi kalau mau melaksanakan tawaf Ifadah dan Sai di Masjidil Haram langsung setelah melempar jumroh aqobah pada hari Nahar tanggal 10 Dzulhijjah. Betul-betul fisik harus siap. Kelelahan dan keletihan akan melanda siapapun yang melaksanakan ibadah haji.

Pada sisi inilah makna ibadah haji sebagai usaha untuk menapaktilasi perjuangan Nabi Ibrahim Alaihis Salam yang kemudian di teruskan oleh Nabi Muhammad saw akan dirasakan. Perjuangan yang berat untuk mendakwahkan agama Allah dan keteguhan serta kepatuhan atas semua perintah Allah SWT mendapatkan ujian yang sesungguhnya. Pada sisi inilah, semua jamaah haji seharusnya merasakan bahwa ibadah haji sesungguhnya bukan hanya soal aktivitas fisik semata namun bentuk penghambaan dan kepatuhan terhadap semua perintah Allah SWT. (MH.17.06.24).

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.