metrouniv.ac.id – 12/06/2024 – 5 Dzulhijjah 1445 H
Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)
Kamu tidak akan sampai pada sebuah kebajikan yang sempurna sebelum kamu bersedia mengorbankan sebagian harta yang paling kamu cintai untuk kemaslahatan manusia (Qs. 3: 92). Merujuk pada prinsip inilah kita dapat menyimpulkan, cinta dan pengorbanan merupakan dua kenyataan paling asasi dalam hidup manusia. Maka tidaklah mengherankan jika para ahli me- nuturkan, “Kamu tidak akan pernah mendapatkan cinta terindah sebelum kamu mampu berkorban, dan kamu pun tidak akan pernah bisa berkorban jika kamu tidak pernah mencintai.”
Cinta membuat orang rela berkorban apa saja demi sesuatu yang dicintainya. Bila cinta memudar, semangat berkorban pun kian memudar. Tidak ada yang salah dengan premis ini, malah itulah kenyataannya. Secara teoretis, seseorang yang bersedia mengorbankan apa pun yang dia miliki untuk orang lain, pastilah orang itu memiliki hubungan sangat khusus di hatinya. Ibrahim bersedia mengorbankan apa pun yang dia miliki, termasuk Ismail putra tercintanya, padahal dia baru saja dianugerahkan Allah kepadanya setelah berpuluh-puluh tahun menunggu.Sikap ini tidak lain karena bukti cintanya teramat tulus dan mendalam kepada Allah. Cinta kepada Allah di atas segalanya, melebihi cintanya kepada anaknya sendiri. Maka dia rela melepaskan miliknya itu, karena dia tahu bahwa anaknya itu lebih dicintai Allah daripada dirinya sendiri. “Ismail adalah milik Allah maka Allah lebih berhak atasnya daripada diriku,” begitu kira-kira kons- truksi berpikir yang dibangun oleh Ibrahim saat mengorbankan Ismail demi cintanya kepada sang Mahacinta itu.
Allah tidak membutuhkan suatu apa pun dari manusia kecuali manusia yang membutuhkan Allah. Cinta manusia kepada Al- lah tidak akan membuat Allah bertambah kemuliaan-Nya dan benci manusia kepada-Nya tidak secuil pun mengurangi kebesaran dan keagungan-Nya. Pengorbanan sebesar apa pun yang dikeluarkan manusia untuk menggapai cinta sang Khaliq tidak akan pernah memperbesar kekayaan Allah, dan keingkaran setinggi apa pun yang diperlihatkan manusia kepada sang Pengasih tidak akan pernah mengguncangkan kesempurnaan Kasih-Nya.
Ibrahim telah memperlihatkan dengan manis cinta dan pengorbannya kepada Allah melebihi cinta dan pengorbanannya kepada Ismail. Karena itu dia berhasil menjadi “khalilullah” (teman sejati Allah). Inilah wujud dari cinta dan pengorbanan. “Di atas langit itu masih ada langit, di atas yang tahu itu masih ada yang lebih tahu, di atas yang mencintai itu masih ada yang lebih mencintai, dan di atas pengorbanan itu masih ada yang lebih berkorban.” Oleh karena itu, jangan pernah bertepuk dada jika telah menuangkan cinta dan merentangkan pengorbanan. Cinta dan pengorbanan akan melahirkan kedekatan dan kebahagiaan. Siapa yang mencintai dengan penuh pengorbanan dan siapa yang berkorban dengan penuh kecintaan, niscaya Allah akan datang kepada-Nya dengan cinta dan pengorbanan pula.
Itulah sebabnya, Rasulullah saw mengajarkan sebuah do’a yang memiliki semangat yang sama dengan prinsip-prinsip cinta dan pengorbanan yang telah dicontohkan dengan baik oleh Nabi Ibrahim di atas. Do’a itu berbunyi: “Wahai Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu untuk dapat selalu mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, dan aku pun memohon kepada-Mu untuk dapat melaksanakan amal-amal saleh yang mampu mengantarkan aku untuk mencintai-Mu. Wahai Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku kepada apa pun di bumi ini, termasuk cintaku pada diri sendiri, kepada keluargaku, dan kepada anak keturunanku.”
Prinsip inilah yang tertuang dengan jelas di dalam al-Qur’an maupun al-Hadits bahwa setiap kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan yang sama, cepat atau lambat ia akan mendapat- kannya. Dan setiap keburukan pasti akan dibalas dengan keburukan yang sama, cepat atau lambat ia akan memperoleh ganjaran- nya. Setiap ada pintu masuk, pasti ada pintu keluar, meskipun tidak semua manusia mampu mengetahuinya. Di sinilah peranan cinta dan pengorbanan menjadi syarat mutlak untuk mendekatkan kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang tidak diketahui orang banyak. Semakin besar cinta dan pengorbanannya, semakin besar pula peluangnya menjadi “dekat” dengan kemampuan untuk mengenali Allah secara lebih dekat.
Setiap cinta akan dibuktikan dengan pengorbanan dan setiap pengorbanan akan dianugerahkan dengan cinta. Ibrahim telah menunjukkan cintanya maka dia diuji untuk berkorban. Setelah dia berkorban dengan apa yang amat dicintainya, ia pun berhak memperoleh kecintaan Allah kepadanya. Berbeda dengan kita adalah cinta terlalu banyak berdimensi pamrih, menuntut dan meminta, sehingga cinta tidak memiliki aura pengorbanan. Cinta tidak memiliki semangat kerendah-hatian. Cinta lebih banyak berteriak untuk didengar (sum’ah) dan diketahui (riya’). Cinta tidak mengalir seperti air sungai yang tenang dan jernih, sepi dari deburan ombak dan sunyi dari hempasan angin.
Cinta kepada Allah, dalam kata-kata Rabi’ah al-Adawiyah, bukan karena aku ingin surga-Nya, melainkan aku ingin bersama-Nya. Jika aku mencintai-Nya karena hendak meraih surga, lemparkan saja aku ke neraka. Cintaku tidak untuk sesuatu melainkan hanya untuk-Nya. Begitulah penghayatan cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Cinta tidak menghitung untung dan rugi, seperti pasar bursa, manusia meminta apa Tuhan memberi apa. Cinta tidak berpretensi untuk memperoleh apa-apa, biar Allah saja yang memberi apa-apa itu, sesuai dengan kehendak-Nya. Maka Rabi’ah benar ketika mengatakan, “Jika aku cinta karena ingin masuk surga, lemparkan saja aku ke neraka.” Suatu sikap cinta yang tidak menuntut belas kasih Tuhan melainkan ia membutuhkan Tuhan untuk membahagiakannya. Karena Tuhan adalah asal dan tujuan semua cinta dan pengorbanan. Kebutuhan manusia kepada Tuhan itulah membuat manusia rela berkorban untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan dalam segala hidupnya.
Apakah Tuhan merasa diuntungkan dengan pengorbanan hamba-Nya itu? Tidak, sekali kali tidak! Sesungguhnya cinta mau- pun benci manusia tidak akan menambah dan mengurangi ke- muliaan dan kebesaran Tuhan. Pengorbanan dan keingkaran manusia kepada Tuhan tidak akan meninggikan maupun menu- runkan dejarat ketinggian dan keagungan Tuhan. Prinsip yang tertuang dalam surat al-Kautsar, “Sesungguhnya Kami telah mem- berikan nikmat yang banyak kepadamu, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah,” menggambarkan tentang bagaimana pengorbanan seseorang itu bukan atas kebutuhan Tuhan melainkan untuk kebaikan manusia itu sendiri. Karena Tuhan telah memberikan dia anugerah yang besar maka dia wajib pula menjawab anugerah itu dengan mengingat kepada-Nya me- lalui salat dan qurban sebagai tanda syukur kepada-Nya. Berbuat sebaliknya berarti dia mengusung kehancurannya sendiri.
Manusia diberikan kebebasan untuk menerima bersyukur sebagaimana manusia juga dibebaskan untuk menolak bersyukur kepada-Nya. Setiap penolakan akan dibalas dengan penolakan yang sama, dan setiap kesyukuran akan dibalas dengan kesyu- kuran yang sama. “Barangsiapa yang melakukan kebaikan seberat zarra pun dia pasti akan melihat balasannya, dan barang- siapa yang melakukan kejahatan seberat zarra pun dia pasti akan melihat balasannya pula (Qs. 99: 7-8).”
Prinsip penerimaaan dan penolakan kebenaran, kebaikan, dan keindahan, memiliki konsekuensi sesuai dengan pilihan bebas manusia. Maka cinta dan pengorbanan pun berpulang pada pilihan bebas manusia. Relakah dia berkorban untuk cintanya ataukah dia cuma bercinta tetapi tidak rela berkorban? Dalam kenyataan hidup sehari-hari kita dapat menyaksikan dengan jelas sekali bahwa cinta yang ikhlas akan melahirkan pengorbanan yang ikhlas pula. Akan tetapi, tidak setiap cinta sanggup melahirkan efek pengorbanan. Cinta Qabil kepada Labudda tidak memberikan efek pengorbanan yang tulus kepada orang yang dicintainya, karena dia hanya mengorbankan makanan busuk sebagai simbol keengganannya dalam berkorban. Sebaliknya, cinta Habil yang tulus kepada Iklima membuat dia rela mengorbankan milik terbaiknya sebagai simbol ketulusanannya dalam bercinta.
Tuhan telah menentukan takdir-Nya bahwa orang yang rela berkorban dengan milik terbaik untuk cinta tertingginya adalah yang berhak mendapatkan tempat di hati Allah, bahkan dia juga berhak memperoleh pujian dan kasih-Nya. Oleh karena itu, prin- sip yang terkandung dalam penyembelihan hewan qurban itu, memuat tiga pesan yang amat strategis, sekaligus menjadi simbol cinta dan pengorbanan manusia, yaitu:
Pertama, prinsip ubudiyah, yaitu berbakti dan mendekatkan diri kepada Allah SWT (hablum minallah) sesuai dengan arti perkataan qurban berasal dari pokok kata qaraba yang artinya men- dekatkan diri. Maka seseorang yang melakukan penyembelihan qurban berarti dia berikhtiar untuk mendekatkan dirinya kepada Allah swt, dan sebagai imbangannya Allah pun akan mendekatkan dirinya kepada hamba tersebut dengan penuh sifat Rahman dan Rahim-Nya.
Kedua, prinsip ijtima’iyah (hablum minannas), dengan mela- kukan penyembelihan hewan qurban itu, dapat dikembangkan rasa setia kawan, persaudaraan dan saling pengertian antara se- sama umat manusia, terutama kaum fakir miskin yang sangat membutuhkan daging qurban itu.
Ketiga, prinsip nafsiah, yaitu pembentukan pribadi seorang muslim yang ditandai dengan penyembelihan sifat-sifat kebi- natangan yang melekat pada diri yang bersangkutan seperti sifat serakah, ingin menang sendiri, tidak memedulikan orang lain dan lain-lain sebagainya.
Ibadah qurban, sebagaimana ibadah dalam Islam, ternyata pada hakikatnya adalah merupakan tanda syukur kepada sang Pencipta Allah swt guna mempertebal iman dan mempertajam taqwa kepada-Nya. Ibadah qurban mendidik manusia agar rela “memberi” untuk kepentingan agama. Ibadah qurban mengga- lang rasa kebersamaan dan saling pengertian, saling memahami, saling membantu, sehingga tumbuhlah saling mencintai dalam kebaikan dan taqwa, bukan dalam dosa dan permusuhan.
Wallahu a’lam.