socio
eco-techno
preneurship

Hijrah: Momentum Kebangkitan Umat

Hijrah: Momentum Kebangkitan Umat

IMG-20240606-WA0033

metrouniv.ac.id – 7/07/2024 – 1 Muharam 1446 H

Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro

Ketika perjuangan menegakkan sebuah kebenaran mengalami kebuntuan, ketika kebenaran ditentang orang pada umumnya, ketika kebenaran dilihat orang sebagai sebuah kebatilan, ketika kebenaran tidak mendapatkan tempat di hati sebuah komunitas masyarakat, dan ketika dakwah islamiyah diabaikan, bahkan ditentang oleh umat, maka jalan satu-satunya yang dapat dilakukan adalah melakukan hijrah, yaitu berpindah dari satu daerah yang tidak kondusif ke daerah lain yang lebih kondusif, sebagaimana dilakukan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya, lebih dari empat belas abad silam.
Peristiwa hijrah ini, bukan hanya sekali dilakukan oleh Nabi, tetapi dilakukannya berkali-kali. Namun yang paling terkenal adalah hijrah dari Kota Makkah menuju Kota Madinah yang kala itu bernama Yatsrib. Sejarah mencatat bahwa umat Islam telah melakukan hijrah sebelumnya, yaitu ke negeri Thaif. Para ahli mengatakan bahwa peristiwa hijrah adalah peristiwa monumental, sekaligus sebagai awal tegaknya agama Islam. Sebelum peristiwa hijrah dilakukan, umat Islam berada dalam tekanan kaum kafir Quraisy, tetapi pasca-hijrah umat Islam sudah berani membela diri dan agama Islam menjadi agama dambaan setiap insan, menjadi agama yang disegani dan disenangi.
Pasca-peristiwa hijrah, hanya dalam hitungan beberapa tahun, dalam kepemimpinan dan dibawah komando Nabi Muhammad saw, agama Islam berkembang dengan begitu pesat ke seluruh jazirah Arab. Agama Islam bahkan menjadi sebuah agama baru yang diminati, dicari, dan digandrungi oleh kawan maupun lawan. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, di bawah kepemimpinan Khulafaurrasyidin dan khalifah-khalifah sesudahnya, agama Islam bahkan menyebar ke seluruh dunia sampai di Spanyol dan Turki di belahan Barat, sampai India dan Indonesia di belahan Timur. Atas dasar hal tersebut, Khulafaurrasyidin kedua, Umar bin Khattab, ketika hendak menetapkan awal tahun kalender Islam, ia menjatuhkan pilihan pada peristiwa hijrah.

Rahasia Keberhasilan
Penetapan peristiwa hijrah sebagai awal tonggak kalender Islam, menunjukkan betapa besarnya peranan hijrah terhadap perkembangan agama Islam. Sejarah mencatat bahwa sebelum hijrah, agama Islam ditolak kaum kafir Quraisy, sedangkan peng- anut agama Islam dihina, disiksa, diboikot, dilecehkan, dan segala macamnya. Tetapi pasca hijrah, agama Islam diminati dan dianut serta pemeluknya dihormati dan dibanggakan. Untuk itu perlu diperhatikan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw pasca pelaksanaan hijrah, sehingga dapat diketahui rahasia dari keberhasilan hijrah itu.
Ketika Nabi Muhammad SAW beserta sahabatnya tiba di kota Madinah, maka ada empat program strategis yang dilakukan oleh beliau. Pertama, membangun sarana dan prasarana umat Islam, yang diwujudkan dalam bentuk masjid. Masjid pertama yang dibangun oleh Nabi adalah Masjid Quba’, terletak lima km dari Masjid Nabawi, Madinatul Munawwarah. Masjid dalam konsepsi Islam, memiliki dua fungsi utama, yakni: sebagai tempat pelaksanaan ibadah salat dan zikir kepada Allah swt, dan sebagai tempat pembinaan dan pemberdayaan umat Islam. Masjid juga digunakan sebagai tempat bermusyawarah, tempat menerima tamu, tempat latihan dan persiapan perang, tempat penampungan tawanan perang, tempat pendidikan dan dakwah.
Kedua, menjaga stabilitas keamanan wilayah dan kerukunan umat beragama. Hal ini diwujudkan oleh nabi dengan mepersaudarakan antara Muhajirin (orang Islam yang pindah dari Makkah) dengan Anshar (orang Islam Madinah), sehingga terjalin ukhuwah islamiyah yang sangat kental, melebihi kentalnya persaudaraan senasab (garis keturunan). Selain itu, Nabi saw membuat Piagam Madinah (Mistâqul Madînah) sebagai simbol kesepakatan antara umat Islam, kaum Yahudi, maupun kaum Musyrikin Madinah, sehingga mereka terkumpul dalam satu komunitas orang-orang beriman, namun menoleransi berbagai perbedaan latar belakang keyakinan di antara tiga kelompok besar umat yang menghuni kota Madinah ini. Kaum Muslimin, kaum Yahudi, dan kaum Musyrikin, memiliki status yang sama. Jika seorang Yahudi bersalah, maka ia harus diluruskan baik oleh kaum Muslimin maupun oleh Kaum Musyrikin. Demikian pula sebaliknya, jika seorang Muslim bersalah, maka ia harus diluruskan baik oleh Muslimin, Yahudi, maupun Musyrikin.
Ketiga, membangun sistem perekonomian umat Islam, diwujudkan dalam bentuk kewajiban membayar zakat. Zakat adalah salah satu bentuk pengaturan perekonomian suatu masyarakat, di mana dalam setiap harta umat Islam terdapat hak atau bagian orang lain, dengan ukuran tertentu. Sistem zakat, mengharuskan seseorang yang memiliki harta cukup (nisab dan haul) memberikan sebagian hartanya kepada orang lain yang membutuhkan, tanpa orang lain tersebut merasa malu atau terhinakan. Sebab dia menerima bagian yang menjadi haknya. Harta zakat, bukanlah sebuah bentuk belas kasihan orang berpunya kepada yang tak berpunya. Akan tetapi, zakat adalah hak orang yang tak berpunya yang harus diserahkan oleh orang yang berpunya.
Keempat, membangun pelembagaan hukum, baik yang bersifat hubungan langsung antara seorang hamba kepada sang Khaliq maupun hubungan antara seorang anak manusia dengan anak manusia yang lainnya. Termasuk dalam hal ini adalah apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak boleh dimakan, dan lain sebagainya. Pelembagaan hukum ini, yang paling tinggi adalah al-Qur’an dan al-Hadits, ditambahkan dengan perjanjian- perjanjian yang dibuat oleh nabi dengan pihak lain, seperti perjanjian antara Nabi Muhammad dengan kaum Yahudi Madinah, yang terkenal dengan Piagam Madinah.
Momentum Kebangkitan
Sebuah fakta yang tak terbantahkan berbicara bahwa umat dan bangsa ini dilanda berbagai persoalan yang sangat pelik. Negeri dan anak negeri ini bahkan sudah tergadai sebab berada diambang kebangkrutan dan tidak mampu lagi membayar hutang-hutangnya. Negeri ini bahkan dikelompokkan oleh sebagian orang sebagai sebuah negara gagal. Oleh karenanya kita tak perlu heran, kalau ada pula yang menyatakan, “Saya malu menjadi orang Indonesia.” Bagaimana tidak malu, negeri ini adalah termasuk negara terkorup di Asia dan bahkan di dunia. Negeri ini paling lemah dalam hal penegakan hukum. Di negeri ini terdapat beberapa daerah yang ingin memisahkan diri dari NKRI dan jaringan terorisme internasional. Di negeri ini juga terdapat perbuatan-perbuatan maksiat lainnya seperti prostitusi, perjudian, membuang anak yang baru lahir ke selokan tanpa ada belas kasihan, dan sebagainya.
Untuk mengatasi berbagai persoalan krisis tersebut di atas, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menjadikan peringatan tahun baru hijriyah ini sebagai momentum kebangkitan umat Islam, dalam mengatasi berbagai persoalan yang melilitnya, dengan memahami, menghayati, mengamalkan dan mengaktualisasikan konsepsi Hijrah sesuai dengan konteks kekinian dan kedisiplinan kita.
Hijrah dapat dilakukan dalam empat bentuk. Pertama, hijrah mental yaitu melakukan perbaikan atas mentalitas diri dari perilaku tidak terpuji menjadi perilaku terpuji. Kedua, hijrah kultural yaitu keluar dari kebodohan dan keterbelakangan. Ketiga, hijrah material/ekonomi yaitu bekerja keras keluar dari kemiskinan menuju kesejahteraan. Keempat, hijrah sosial yaitu meningkatkan kepedulian dan solidaritas atas penderitaan orang lain.
Wallahu a’lam.

Artikel Terkait

Haji: Sebuah Catatan Akhir

metrouniv.ac.id – 12/07/2024 – 6 Muharam 1446 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Setelah pelaksanaan puncak ibadah haji

Hijrah dan Strategi Perjuangan

metrouniv.ac.id – 12/07/2024 – 6 Muharam 1446 H Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro) Hijrah adalah

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.