metrouniv.ac.id – 6/01/2026 – 17 Rajab 1447 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Ketua Senat/Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Secara naluriah dan alamiah manusia pasti suka dengan kebaikan. Begitu juga sebaliknya dipastikan benci dengan keburukan dan kejahatan. Sejarah kehidupan manusia yang melintasi batas dan waktu menunjukkan hal tersebut. Setiap perbuatan baik akan didukung, dipuji dan pelakunya senantiasa dihormati. Sementara perbuatan tidak baik, apapun bentuknya; kejahatan, kemaksiatan, dosa, kebengisan, kedzaliman, pasti akan dikecam dan dibenci. Seperti itulah hukum kehidupan yang berlaku.
Manusia percaya bahwa dalam kehidupan ini berlaku hukum kausalitas atau sebab akibat. Setiap perbuatan yang dilakukan seseorang pasti mengakibatkan sesuatu yang lain. Perbuatan itu sebagai sebab dan sesuatu yang lain itu sebagai akibat. Jika dibalik, suatu akibat yang terjadi dipastikan karena diawali sebab tertentu. Kaum Stoik (Penganut filsafat Yunani Kuno yang fokus pada kebajikan dan kebijaksanaan), percaya setiap peristiwa memiliki sebab yang pasti, menciptakan rantai kausalitas yang tak terputus. Immanuel Kant, menegaskan bahwa kausalitas bukan hanya dari pengalaman, tapi merupakan kategori apriori (bawaan) dari akal manusia yang memungkinkan kita memahami dunia. Namun Al-Ghazali sedikit berbeda. Al-Ghazali menolak pandangan filosof yang menganggap kausalitas itu pasti. Baginya, hubungan sebab-akibat (misal: api membakar) hanyalah ‘kebiasaan’ (adat) di alam; Tuhan-lah yang secara langsung menciptakan akibat, bukan sebab itu sendiri yang memaksa.
Al-Ghazali, seorang filosof muslim dan penganut sufisme, memang berbeda. Ia tidak percaya semua perbuatan manusia dikarenakan kehendaknya sendiri, tetapi ada campur tangan Tuhan dalam setiap perbuatan yang dilakukan. Perbuatan yang dilakukan seseorang (sebagai sebab) tidak serta merta akibatnya karena sebab tersebut, namun Allah lah yang menciptakan akibatnya. Ini namanya transendentalisme, dimana tidak ada di dunia ini yang terjadi termasuk perbuatan manusia tanpa pengaruh ilahi. Bisa dipahami karena begitulah pandangan dalam teologi Islam.
Apapun pandangannya, namun yang pasti semua percaya bahwa setiap kebaikan pasti berakibat kepada kebaikan. Demikian juga setiap keburukan pasti berakibat kepada keburukan pula. Melalui logika ini, maka siapapun yang ingin mendapatkan kebaikan maka dia harus banyak berbuat baik. Pun demikian, siapa yang hidupnya diliputi keburukan, kejahatan dan kemaksiatan dipastikan karena ia banyak berbuat buruk dan kemaksiatan. Sederhana saja, jika seseorang ingin hidupnya diliputi kebahagiaan dan kebaikan, maka banyaklah berbuat baik. Nonsens, ada orang kehidupannya bahagia dan penuh kebaikan, namun perilakunya buruk dan berkubang dosa.
Mempertegas narasi di atas, Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 7 berfirman:
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai”.(QS. Al-Isra’: 7)
Ayat di atas mengingatkan kepada manusia bahwa setiap perbuatan baik dilakukan maka kebaikan itu untuk manusia itu sendiri. Demikian juga, setiap perbuatan buruk yang dilakukan manusia, maka sesungguhnya itu akan kembali berupa keburukan bagi dirinya. Dengan demikian, jika seseorang berbuat baik kepada orang lain, esensinya ia berbuat baik kepada dirinya sendiri. Sebaliknya jika seseorang berbuat jahat kepada orang lain, maka ia sebenarnya berbuat buruk untuk dirinya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat di atas, Kaum Bani Israel telah berbuat kerusakan di muka bumi sebanyak dua kali, dan mereka menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar, yaitu mereka akan berbuat sewenang-wenang, melampaui batas dan durhaka terhadap orang lain. Maka akibat perbuatan itu musuh-musuh Bani Israel akan merendahkan, menginjak-nginjak harga diri dan menyuramkan wajah mereka dengan menimpakan atas mereka ragam penghinaan dan siksa.
Hukum kehidupan itu sederhana. Tidak rumit dan berbelit-belit. Jika ingin kehidupan yang diliputi kebaikan dan kebahagiaan, maka perbanyaklah bebuat baik. Namun jika ingin kehiduoan yang penuh keburukan dan penderitaan, maka lakukanlah keburukan dan kejahatan sesuka hatimu. Anehnya, meskipun manusia secara naluriah menyukai kebaikan, tetapi pertarungan antara kebaikan dan keburukan itu tidak pernah berhenti dan selesai. Banyak orang yang ingin dengan kebaikan, namun banyak pula orang yang ingin hidup dengan keburukan. Wallahu a’lam bishawab.