“Pernah terdengar tentang witing tresno jalaran soko kuliner;
mungkin saja ini tentang indikator”
metrouniv.ac.id – 14/10/2025 – 21 Rabiul Akhir 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Jurai Siwo Lampung)
Alkisah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, pernah ditanya oleh seorang sahabat: “Wahai Ali, kami melihat engkau memiliki banyak sahabat dan mereka tampak sangat setia denganmu. Jika boleh tahu, berapa jumlah sahabatmu? Ali, Sang Gerbang Pengetahuan, yang kalam-nya lebih sering menjadi cermin daripada alat untuk menghantam, tidak tergesa menjawab pertanyaan yang barangkali terdengar sederhana itu. Mungkin karena kesetiaan adalah sesuatu yang abstrak, sehingga jumlah pasti tentang sahabat setia bukanlah sesuatu yang dapat dihitung pada hari sedang cerah dan angin berhembus tenang. Lalu, dengan penuh perhitungan, Sayyidina Ali menjawab, “terkait jumlah sahabat setiaku, akan kuhitung nanti, setelah aku tertimpa musibah.” Demikianlah, manakala gelap menyelimuti, kita akan tahu siapa yang datang membawa pelita. Baru pada saat badai menghantam, kita akan melihat siapa kawan yang merapat dan siapa yang hanya numpang berteduh pada saat cuaca baik saja.
Jawaban ini mengandung hikmah mendalam. Saat gelap dan badai menyelimuti, barulah akan tampak siapa yang benar-benar datang membawa pelita. Saat ujian dan kesulitan menghantam, kita bisa melihat dengan jelas siapa kawan yang tetap setia, dan siapa yang hanya berteduh saat cuaca baik saja. Ini adalah pelajaran pertama tentang pentingnya pengujian karakter dan kesetiaan dalam kehidupan.
Menariknya, pandangan ini mendapat cerminan serupa dalam perkataan Buya Hamka, seorang ulama dan sastrawan besar Indonesia. Buya Hamka pernah berujar bahwa jika ingin menghitung jumlah orang Islam, datanglah saat sholat hari raya Idul Fitri. Pada hari tersebut, masjid dan lapangan penuh sesak dengan jamaah mengenakan pakaian terbaik, suasana meriah dan ramai. Namun, jika ingin menghitung jumlah orang yang benar-benar beriman, maka datanglah saat sholat Subuh, ketika langit masih gelap, dunia masih terbungkuk dalam kantuk, dan hanya sedikit yang hadir. Di saat sepi dan gelap itulah keimanan sejati teruji.
Kedua kisah ini, dari Sayyidina Ali dan Buya Hamka, mengajarkan kita bahwa nilai-nilai abstrak seperti kesetiaan dan keimanan bisa terungkap dengan jelas melalui indikator atau tanda-tanda tertentu. Dalam dunia penelitian, konsep ini dikenal dengan istilah indikator. Indikator adalah ukuran yang digunakan untuk menunjukkan atau menggambarkan sesuatu yang abstrak, seperti variabel yang sulit diukur secara langsung. Indikator membantu mengoperasionalisasikan konsep teoritis menjadi sesuatu yang dapat diukur dan diamati secara nyata.
Misalnya, para peneliti sosial yang ingin menilai kepuasan pengguna biasanya menggunakan indikator seperti keramahan staf, kecepatan pelayanan, dan ketepatan pelayanan. Di bidang pendidikan, untuk mengukur motivasi mahasiswa, indikator yang sering digunakan adalah ketepatan waktu, pengerjaan tugas, partisipasi aktif di kelas, dan pencapaian nilai akademik. Dengan kata lain, mahasiswa yang tidak terlambat, rajin mengerjakan tugas dengan integritas, aktif bertanya dan berdiskusi, serta memperoleh nilai baik, dianggap memiliki motivasi tinggi.
Memasuki konteks yang lebih spesifik, seperti dunia kampus, pertanyaan yang sering muncul adalah: Apa indikator sebuah kampus yang unggul? Jawabannya tentu bisa bervariasi, namun berdasarkan pengalaman empiris dari kunjungan asesor ke berbagai perguruan tinggi, ada empat indikator utama yang dapat dijadikan tolok ukur.
Pertama, kebersihan dan kenyamanan fasilitas, khususnya restroom (toilet kampus). Restroom yang bersih, nyaman, dan privat bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga memberikan ruang bagi pengunjung untuk beristirahat dan memulihkan diri setelah melakukan aktivitas akademik yang padat. Kedua, keberadaan perpustakaan yang menyediakan koleksi referensi yang kaya dan relevan serta menciptakan atmosfer akademis yang kondusif. Perpustakaan adalah sumber ilmu yang vital dan menjadi pusat belajar yang efektif bagi civitas akademika.
Ketiga, kualitas sumber daya manusia, yaitu jumlah dosen yang berkualifikasi doktor dan memiliki jabatan akademik minimal Lektor Kepala. Dosen dengan kualifikasi ini mencerminkan tingkat keilmuan dan kompetensi yang tinggi dalam proses pembelajaran, penelitian, dan publikasi. Keempat, penerapan dan dokumentasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Kurikulum OBE memastikan bahwa proses pembelajaran dirancang dan diukur berdasarkan capaian hasil belajar yang konkret dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat. Jika keempat indikator tersebut terpenuhi dengan baik, sebuah kampus atau program studi boleh dikatakan unggul dan berkualitas.
Untuk memberikan gambaran yang lebih mudah, kampus unggul boleh dianalogikan dengan dunia kuliner. Let’s say bahwa para dosen adalah ibarat koki (chef), kurikulum adalah bahan masakan, dan perpustakaan serta restroom adalah dapurnya. Chef yang berpengalaman dan tersertifikasi, bahan masakan yang premium dan segar, ditambah dapur yang lengkap dan bersih merupakan kombinasi utama untuk menghasilkan hidangan istimewa. Begitu pula dalam pendidikan tinggi, perpaduan antara dosen berkualitas, kurikulum yang tepat, fasilitas yang memadai, dan lingkungan akademik yang kondusif merupakan indikator utama dari kampus yang unggul.
Ah, karena tulisan ini tidak lahir dari seorang asesor, indikator-indikator tersebut boleh jadi belum sepenuhnya presisi. Namun, semoga tidak terlalu meleset. Wallahu a’lam.