JEDA DI CEMARA SEWU

IMG-20251030-WA0004

Oleh :

Suhendi

 

Pukul enam pagi, Hiace putih yang saya dan teman-teman LPM tumpangi perlahan memasuki wilayah Yogyakarta. Matahari baru saja terbit, cahaya oranye muda tersenyum menyapa disela-sela pepohonan yang berderet di pinggir jalan. Udara pagi itu terasa segar
setelah semalaman menempuh perjalanan jauh dari kota tujuan sebelumnya. Kami saat ini
memang tengah melakukan lawatan studi tiru ke dua perguruan tinggi di Banten dan Yogyakarta.Karena waktu check-in tempat menginap masih cukup lama, kami menepi sejenak ke pantai.

Cemara Sewu, sebuah tempat yang tenang, bersebelahan dengan pantai Parangtritis yang lebih ramai dan dikenal banyak orang. Mungkin karena masih terlalu pagi, jalan menuju
pantai terlihat lengang. Barisan pohon cemara berdiri di kiri kanan riang melambai sejak dari pintu kedatangan.
Debur ombak terdengar bersautan, hamparan pasir hitam seperti mengukir gradasi indah di bibir pantai.

Saya dan teman-teman turun dari mobil dan menggunakan kesempatan itu untuk
menggerakan badan dan menarik napas panjang. Angin laut sepoi bercampur anyir asin dan wangi getah dari cemara yang basah oleh embun. Ombak putih bergulung bergantian memecah keheningan.

Tak jauh dari tempat saya berdiri, tampak seorang lelaki paruh baya
duduk memancing. Saya mendekat dan terus memperhatikan. Ia diam setelah melempar kail ke tengah lautan. Tenang, sesekali menatap laut yang masih pucat biru, seolah berbicara dengan dirinya sendiri.

Sebuah moment yang biasa sebenarnya, tapi entah waktu itu saya berfikir ini seperti sindiran kecil di tengah dunia yang terbiasa tergesa, lelaki itu tampak begitu pasrah pada waktu. Ia tidak terburu, tidak ingin segera selesai. Dan saya tiba-tiba merasa, mungkin begitulah
seharusnya kita hidup: tahu kapan harus berjalan, dan kapan harus berhenti sejenak untuk sekadar diam dan mengerti arah. Potret itu 180 derajat berbeda dengan kebanyakan kita yang berkejaran dengan waktu, tergopoh-gopoh dengan deadline pekerjaan yang seperti tiada habis. Semuanya bergerak
serba cepat. Kalender padat. Pesan-pesan datang seperti tanpa henti—burnout. Tapi di tengah hiruk pikuk itu, ada sesuatu yang pelan-pelan hilang—ruang untuk berpikir, waktu untuk mendengar, tempat untuk menyapa diri sendiri. Kita sering lupa bahwa bekerja tanpa jeda
bukanlah tanda produktif. Itu hanya tanda bahwa kita lupa bernapas.
Laut pagi itu seperti guru yang sabar. Ia menunjukkan bahwa yang kuat bukan yang selalu bergerak, tapi yang tahu kapan harus diam. Di sana saya mengerti satu hal: jeda bukan kemewahan, tapi kebutuhan. Karena dalam berhenti, kita memberi kesempatan bagi pikiran
untuk jernih, bagi perasaan untuk pulih, dan bagi diri untuk menemukan arah yang lebih utuh.

Penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa menepi bukan kemalasan, melainkan bagian penting dari cara otak bekerja. Sejumlah studi dari universitas ternama menemukan
bahwa saat seseorang berdiam diri di alam terbuka—terutama di tepi laut—bagian otak yang berperan dalam refleksi dan kreativitas justru menjadi lebih aktif. Dalam keheningan, pikiran
tidak berhenti; ia menyusun ulang makna.

Peneliti lain menemukan, dua jam berada di dekat laut atau ruang hijau setiap minggu dapat menurunkan kadar hormon stres dan menyeimbangkan emosi. Suara ombak dan aroma udara
laut membantu tubuh menemukan ritme alaminya. Dalam keadaan tenang itu, kemampuan empati dan pemecahan masalah meningkat.

Temuan-temuan itu memperkuat hal yang sesungguhnya sederhana: refleksi menyembuhkan. Ia menata ulang sistem saraf, menenangkan emosi, dan mengembalikan kejernihan berpikir.
Di dunia kerja dan belajar yang terus berlari, menepi bisa menjadi cara untuk menjaga mutu—bukan hanya mutu kerja, tetapi juga mutu kemanusiaan.

Namun, manusia modern kini semakin sulit untuk benar-benar diam. Kita hidup di tengah riuh notifikasi dan kebiasaan baru yang disebut para peneliti media multitasking: kecenderungan berpindah dari satu layar ke layar lain, dari satu percakapan ke percakapan berikutnya. Riset neurologi menunjukkan bahwa mereka yang terbiasa melakukan hal itu
memiliki kapasitas memori kerja lebih rendah, lebih sulit fokus, dan lebih mudah lelah secara mental. Studi lain memperlihatkan, paparan digital yang berlebihan dapat mengganggu sistem
perhatian dan pengaturan emosi. Akibatnya, kita menjadi cepat reaktif, mudah terdistraksi, dan perlahan kehilangan kepekaan terhadap orang di sekitar. Penelitian lain bahkan menyebut bahwa multitasking ekstrem menurunkan kemampuan berpikir mendalam dan empatik—dua
hal yang paling dibutuhkan dalam kerja kolaboratif dan komunikasi antarmanusia. Kita berbicara, tapi tidak sungguh mendengar. Kita membaca, tapi tak sepenuhnya memahami. Kita terhubung ke banyak orang, tapi kehilangan kedalaman di antara mereka.

Laut mengajarkan hal yang berbeda. Ia hadir sepenuhnya di setiap gelombang. Tidak ada yang disembunyikan, tidak ada yang dipercepat. Laut bergerak dalam ritmenya sendiri, dan dari situlah kekuatannya lahir. Mungkin kita perlu belajar kembali dari laut—bagaimana
menjadi luas tanpa kehilangan arah, bagaimana bergerak tanpa kehilangan tenang.

Hari menjelang siang, cahaya di Cemara Sewu berubah terik. Bayangan cemara-cemara bersembunyi di balik pasir. Lelaki yang sejak pagi memancing perlahan menggulung tali pancingnya. Ia tersenyum kecil. Entah karena hasil tangkapan, entah karena ketenangan yang ia temukan.

Saya menatap laut yang mulai berwarna biru. Ombak tetap datang, tetap pergi, seperti napas panjang yang tidak pernah habis. Laut seolah berbisik pelan: tak ada kesempurnaan dalam kecepatan, hanya keletihan yang tertunda. Yang membuat hidup indah justru ruang-ruang di antaranya—diam, jeda, dan napas.
Di sana saya mengerti, jeda bukan sekadar istirahat. Ia adalah keberanian untuk memberi jarak dari rutinitas agar bisa melihat lebih jelas. Ia adalah ruang untuk mendengar lagi suara hati tim, untuk memulihkan arah, untuk memperbaiki niat.

Dari Cemara Sewu saya belajar bahwa kesunyian bukan ketiadaan suara, melainkan tempat dimana makna kembali terdengar. Di Cemara Sewu, kalimat itu terasa hidup. Di balik debur ombak dan hembusan angin, saya mendengar kembali hal-hal kecil yang sering tenggelam oleh kesibukan: rasa syukur, kesabaran, dan keyakinan bahwa kerja yang baik tidak lahir dari tergesa, melainkan dari kesadaran yang pelan dan jernih.

Ketika akhirnya matahari tenggelam, laut menjadi cermin gelap yang memantulkan langit senja. Ombak tetap bergerak, tapi lebih tenang. Di antara aroma garam dan suara angin, saya tahu satu hal: manusia, tim, dan lembaga—semuanya membutuhkan laut di dalam dirinya. Tempat untuk berhenti sebentar. Tempat untuk memberi jarak. Tempat di mana kerja kembali menemukan arah, dan manusia kembali menemukan dirinya (Hdy).

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.