NU DAN ISLAM NUSANTARA

bg dashboard HD

NU DAN ISLAM NUSANTARA
Oleh : Didik Kusno Aji
Pemerhati sosial keagamaan dan Pengajar di STAIN Metro
 
           
Dengan hormat, kalau perlu saya mencium kaki anda semua agar mengikuti akhlakul karimah, akhlak mbah hasyim dan pendahulu kita.” Kalimat itulah yang diucapkan KH. Mustofa Bisri kepada peserta muktamar Nahdatul Ulama (NU) ke 33 di Jombang saat menenangkan peserta tetang tata tertib cara pemilihan ketua PBNU. Dalam muktamar tersebut, sempat terjadi ketegangan antar dua kubu yang mendukung  ahlulul halli wal aqdi (Ahwa) dan yang menolak Ahwa.
Terlepas dari kekisruhan tersebut, dalam muktamar NU tersebut terpilih kembali Said Aqil Siroj sebagai ketua PBNU periode 2015-2020. Sementara pada waktu yang hampir bersamaan, Muhammadiyah juga melaksanakan Muktamar yang ke 47 di Makassar. Ada hal menarik pada pelaksanaan muktamar kedua ormas ini. Dimana NU memfokuskan pada peneguhan pandangan Islam yang moderat, sementara Muhammadiyah meneguhkan pada penguatan ekonomi umat Islam.
Sikap dan cara pandang dari kedua hasil muktamar kali ini jika disatukan, maka imbasnya akan sangat luar biasa.  Dimana Islam Indonesia akan menjadi sebuah kekuatan ekonomi dan memiliki sikap moderat dalam bersikap dan bertindak. Kedua hal inilah yang sebarnya menjadi cita-cita para pemimpin kita terdahulu. Tentu kita masih ingat dengan paham berdikari yang dicetuskan oleh Bung Karno. Jika ekonomi dalam suatu Negara kuat, maka suatu bangsa tidak akan mudah didikte oleh pengaruh Negara lain.

Adalah hal yang menarik yang dimunculkan oleh NU dalam Muktamar yang ke 33 di Jombang kemarin. “Islam Nusantara” menjadi gagasan ideologi NU yang terilhami dari nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di Indonesia. Ideologi ini sebenarnya bukanlah gagasan baru yang tiba-tiba muncul begitu saja. Gagasan ini sebenarnya telah dipraktikan oleh para penyebar Islam di negeri ini. Tokoh walisongo adalah tokoh yang telah mempraktikan gagasan Islam nusantara yang sebenarnya. Dimana ajaran islam menyatu bersama nilai-nilai lokal masyarakat setempat. Peninggalan para wali tersebut, saat ini masih bisa kita nikmati sampai dengan hari ini. Salah satu contohnya adalah Masjid Agung Kudus. Unsur perpaduan antara kebudayaan hindu dan islam begitu terlihat jelas disini. Keputusan dalam membuat desain tersebut tentu bukan serta merta wujud sebuah bangunan, namun ada berbagai macam unsur yang terlibat. Unsur budaya, nilai kearifan, sikap moderat terpadau menjadi satu kesatuan, sehingga unsur egoisme dan keangkuhan sangat jauh terlihat. Namun toh jati diri Islam yang sesunggunhya tidaklah hilang ditengah arus akulturasi kebudayaan tersebut.
Diakui atau tidak, kondisi globalisasi di Indonesia saat ini memiliki pengaruh yang sangat tajam terhadap berbagi dimensi. Baik agama, ahlak, kebudayaan, kebiasaan dan lain sebagainya. Secara ideologi, globalisai membawa kita dalam suatu kondisi yang sangat rentan dalam kondisi menakutkan. Munculnya paham-paham baru yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa kita saat ini semakin hari semakin terlihat. Hal yang paling sederhana seperti dalam bentuk gotong royong dan sikap rendah hati masyarakat kita yang kian menipis. Namun betapa sikap egoisme, fanatisme, konsumerialisme juga semakin subur keberadaanya.
Adalah berbagai kasus perbedaan faham dan ideologi yang menjadi salah satu pemantik kekisruhan yang terjadi dipelbagai daerah. Maka, konsep wawasan Islam nusantara sebagai bentuk dari membangun peradaban menjadi hal yang sangat tepat untuk digaungkan kembali.
Dalam kacamata modernisme, secara teologi, bahwa Islam adalah sistem nilai dan ajaran ilahiyah, namun islam pun tidak menutup diri dari modernitas. Dalam
artian, bahwa Islam tidak akan menutup diri dari modernisme. Namun nilai-nilai Islam harus menjadi pegangan dalam menatap modernisasi tersebut. Sikap inilah yang harus menjadi cermin umat islam dalam bertindak.
 
Sikap NU

NU sebagai ormas Islam terbesar di negara ini diharapkan mampu berkiprah lebih jauh dalam menanamkan nilai-nilai islam yang berbasis kearifan lokal. Sehingga benih perpecahan yang disebabkan dari perbedaan etnis, suku dan kebudayan akan semakin terkikis. Masih hangat dalam memori kita, betapa perbedaan bisa membuat segalanya menjadi rusak dalam waktu sekejab. Konflik pembakaran masjid di Tolikara, Papua tentu membutuhkan sikap kearifan dari berbagai pihak. Maka
peran ormas seperti inilah yang bisa membatu dalam merdam berbagai macam konflik atas nama ideologi. Organisasi ini mesti bisa menjadi garda terdepan dalam membetengi dari berbagai pengaruh ideologi dari luar yang bisa merusak tatanan nilai yang sudah tertata dengan baik.Dalam kondisi seperti saat ini, para pemuka dan pendakwah agama mestinya memiliki bekal pemahaman yang luas dan lebih moderat, sehingga pemahaman tekstualis terhadap kitab suci yang cenderung sempit bisa diterjemahkan dengan pemaknaan yang lebih luas. Maka solusi terhadap suatu masalah yang terjadi dengan pendekatan lewat berbagai pemahaman dengan konteks tertentu sangat diperlukan. Sehingga titik singgung pemahaman lewat sudut pandang nilai-nilai lokal akan menyatu dengan semangat keagamaan masyarakat. Jika itu terlaksana dengan baik secara bersama-sama, maka tema yang diangkat NU “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia dalam muktamar kemarin setidaknya akan terasa membekas dan bisa dinikmati hasilnya. Wallahu alam’ bisowaf.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.