socio
eco-techno
preneurship

Nuzul Al-Qur’an Lahirkan Peradaban Baru

Nuzul Al-Qur’an Lahirkan Peradaban Baru

9. Nuzul Al-Qur'an cover

metrouniv.ac.id – 28/03/2024 – 17 Ramadhan 1445 H

Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)

Al-Qur’an adalah merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril dan merupakan ibadah yang akan mendapatkan pahala dari sisi Allah SWT bagi yang membacanya, terdiri dari 30 Juz, 114 Surat, 6666 ayat, 77.439 kata, 323.015 huruf, adalah merupakan petunjuk pertama dan utama bagi umat Islam dalam hidup dan kehidupannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya : Demikianlah Al-Qur’an yang tidak ada keraguan padanya dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (Qs. Al-Baqarah: 2).

Al-Qur’an diturunkasn pertama kali pada bulan Ramadhan di malam Lailatul Qadar, yaitu malam kemuliaan. Malam kemuliaan itulah sebenarnya yang kita peringati saat ini di mana nilainya lebih baik dari seribu bulan, atau setara dengan 83 tahun 4 bulan. Suatu hitungan waktu yang melebihi umur kelaziman seorang anak manusia.

Budaya Membaca

Pada malam Lailatul Qadar inilah Al-Qur’an pertama kali turun sekaligus sebagai pelantikan Muhammad sebagai seorang Nabi dan Rasul. Ayat yang pertama kali turun tersebut adalah Surat Al-Alaq ayat 1 sampai dengan 5 yaitu: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Qs. Al-Alaq: 1-5).

Ayat pertama ini mengandung perintah membaca untuk mencerdaskan diri dengan membaca. Membaca dengan mata, membaca dengan pikiran, membaca dengan hati. Perintah untuk mencerdaskan diri melalui iman, ilmu dan amal, harus dimulai dengan membaca. Membaca haruslah menjadi budaya bagi umat Islam, sebab perintah pertama yang dititahkan Allah swt kepada muhammad SAW adalah perintah membaca, baik membaca yang tersurat maupun yang tersirat. Baik membaca Kalam Allah (Ayat Qauliyah), maupun membaca alam sekitar (Ayat Kauniyah)

Iqra (Bacalah), tetapi apa yang harus dibaca? Ma Aqraa? Tanya Nabi dalam suatu riwayat, Setelah beliau kepayahan dirangkul dan diperintah membaca oleh Malaikat Jibril. Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut Bismi Rabbika, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.

Suatu hal yang sangat menarik adalah di dalam ayat ini kata-kata Iqra atau perintah membaca terdapat pengulangan. Hal ini memberikan isyarat kepada kita bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali dengan mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan Bismi Rabbika (demi karena Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca adalah itu-itu juga.

Mengulang-ulang membaca Al-Qur’an akan menambah wawasan baru, mensucikan jiwa, menerangkan batin dan bahkan menambah pemahaman baru sekalipun yang dibaca adalah itu-itu juga, membaca alam raya secara berulang-ulang akan mambuka tabir rahasia alam semesta, menambah perkembangan ilmu pengetahuan dan bahkan menambah kesejahteraan umat manusia.

Bacaan Lahirkan Peradaban

Sungguh perintah membaca adalah merupakan suatu warisan yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia, sebab perintah membaca dengan segala aneka ragamnya akan melahirkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peradaban suatu bangsa. Kita dapat mencatat bahwa suatu peradabaan yang pernah lahir dan bertahan lama di dunia ini adalah bersumber dari sebuah kitab (bacaan) yang dibaca oleh umat manusia.

Sebagai contoh adalah peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Hemer pada abad ke-9 Sebelum Masehi, dan berakhir dengan hadirnya kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831). Peradaban Islam yang pernah berjaya di dunia selama 800 tahun, dibangun dengan sebuah bacaan yaitu Al-Quran. Kita semua yakin dan percaya bahwa Al-Qur’an tidak akan berakhir atau hilang di dunia. Sebab Al-Qur’an merupakan kitab suci yang dipelihara oleh Allah SWT sesuai dengan firmanNya: “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan kami pula yang memeliharanya (Qs. Al-Hijr: 9).

Pedaban Islam yang pernah jaya selama 800 tahun di dunia, akhir-akhir ini mengalami penurunan, bukanlah disebabkan oleh karena Al-Qur’an tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman atau Al-Qur’an dianggap telah ketinggalan zaman. Akan tetapi, hal ini semata-mata disebabkan bahwa umat Islam secara intelektual tidak mampu menerjemahkan atau menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan perkembangan zaman: zaman modern, neomodern, maupun postmodern.

Para pakar dari semua lapisan mengakui bahwa Al-Qur’an adalah merupakan sumber energi luar biasa yang apabila dapat dimanfaatkan oleh umat Islam maka akan dapat menghasilkan energi yang luar biasa yang dapat merubah perdaban umat manusia saat ini.

Al-Qur’an yang selalu dibaca umat Islam tidak pernah mengalami perubahan, tetapi sebaliknya dunia mengalami perubahan akibat Al-Qur’an. Zaman Jahiliyah di Jazirah Arab berubah menjadi dunia baru yang penuh dengan kemajuan, membangkitkan peradaban baru sampai ke dunia Barat yaitu Spanyol dan ke dunia Timur sampai India dan Asia Tenggara.

Sikap Baru terhadap Al-Qur’an

Persoalan sekarang bagi kita adalah begitu besar andil yang telah dimainkan oleh Al-Qur’an dalam membangun sebuah peradaban modern, namun umat Islam di seluruh dunia banyak yang meninggalkan atau bahkan lari dari Al-Qur’an. Semua kita sepakat bahwa Al-Qur’an adalah merupakan pedoman utama yang harus dipelajari, dihayati dan diamalkan. Namun dalam kenyataannya sekarang ini Al-Qur’an dijadikan umat Islam sesuatu barang antik yang harus disimpan di tempat yang aman agar tidak tersentuh dan dirusak orang lain. Sebagian yang lainnya bahkan menjadikan Al-Qur’an sebagai azimat yang apabila ditulis di atas kertas dan ditempelkan dalam tubuh manusia maka akan dapat melindungi orang yang bersangkutan. Tidak jarang pula di antara kita yang menjadikan Al-Qur’an sebagai barang hiasan yang dipajang di sudut-sudut rumah. Dan satu hal lagi yang sangat merisaukan kita adalah Al-Qur’an hanya dibacakan kepada orang-orang yang sudah meninggal.

Kenyataan tersebut di atas, seharusnya kita rubah secara radikal dengan menurunkan Al-Qur’an dari tempat-tempat yang aman tadi, membuka kembali ayat-ayat Al-Qur’an yang terbungkus sebagai azimat, menurunkan Al-Qur’an dari hiasan-hiasan dinding untuk selanjutnya dibaca, dipelajari, dihayati dan diamalkan isi kandungannya dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, serta membacakan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang masih hidup dan berkeliaran di muka bumi, sehingga mereka mempunyai pegangan yang mantap dalam mengarungi kehidupannya sebagai hamba Allah dan khalifah Allah di muka bumi.

Wallahu a’lam

Artikel Terkait

SYIRIK KECIL

metrouniv.ac.id – 28/03/2024 – 17 Ramadhan 1445 H Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro) Beberapa hari menjelang  Idul

Puasa adalah untuk ‘AKU’

metrouniv.ac.id – 23/03/2024 – 12 Ramadhan 1445 H Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro) Ibadah Puasa

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
"Ayo Kuliah di IAIN Metro"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.