PEKERJAAN SEBAGAI HARGA DIRI

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 04/03/2022

Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)

 

Engkau sarjana muda

Resah mencari kerja

Mengandalkan Ijazahmu

Empat tahun lamanya

Bergelut dengan buku

Tuk jaminan masa depan

 

Langkah kakimu terhenti

Di depan halaman sebuah jawaban

 

Tercenung lesu, engkau melangkah

Dari pintu kantor yang diharapkan

Terngiang kata tiada lowongan

Untuk kerja yang didambakan

 

(Iwan Fals, bagian dari syair lagu ‘Sarjana Muda’)

 

Bagi para penggemar penyanyi balada Iwan Fals, syair lagu di atas barangkali sudah tidak asing lagi bahkan mungkin sangat hafal dan sebagian lagi bisa menyanyikannya. Judul lagu tersebut adalah ‘Sarjana Muda”, bercerita tentang suka duka seorang sarjana muda yang sudah menempuh pendidikan bertahun-tahun tapi belum juga mendapatkan pekerjaan yang diharapkan. Keresahan dan putus asa sebagaimana isi lagu di atas adalah  mungkin potret yang dialami oleh banyak orang lulusan perguruan tinggi atau lulusan sekolah. Betapa susahnya mencari pekerjaan dan betapa besarnya beban psikologis yang harus ditanggung oleh seorang pengangguran.

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa harga diri seseorang terletak kepada pekerjaannya. Dalam masyarakat yang menempatkan  budaya maskulinitas sangat tinggi, ungkapan itu jika spesifik ke laki-laki: “harga diri seorang laki-laki adalah pada pekerjaannya”. Ungkapan ini ada benarnya dalam perspektif kebudayaan. Bahwa menjadi pengangguran tanpa status pekerjaan adalah kondisi yang dipandang rendah dalam masyarakat. Maka dengan demikian pekerjaan atau status kegiatan ekonomi seseorang adalah harga diri dan kehormatan bagi siapapun yang menyandangnya.

Dalam berbagai kesempatan ketika bertemu dengan seseorang, entah itu kerabat, teman, atau orang yang baru saja dikenal, tegur sapa atau pembicaraan awal pembuka adalah hal-hal yang berhubungan dengan keluarga dan pekerjaan. Orang pasti akan bertanya, apa statusnya, masih sendiri atau berkeluarga, kalau sudah berkeluarga berapa anaknya, lalu basa basi berikutnya adalah bekerja dimana atau apa kegiatannya saat ini. Artinya status pekerjaan menjadi salah satu hal yang ditanyakan ketika untuk pertama kali bertemu atau lama tidak bertemu dengan orang lain. Para orang tua ketika bertemu dengan kawan-kawannya biasanya secara bangga menceritakan apa pekerjaan anak-anaknya sekarang, posisinya, jabatannya dan sebagainya. Kebanggaan itu, seolah-olah adalah bagian dari kehormatannya sebagai orang tua.

Biasanya seseorang akan menyampaikan dengan penuh kehormatan dan kebanggaan terhadap status pekerjaannya yang selama ini ia geluti. Begitu juga halnya orang tua, ia akan bercerita dengan bangga tentang status pekerjaan anak-anaknya. Tentu dengan caranya masing-masing, ada yang dilebih-lebihkan dan adapula yang apa adanya. Hal ini menunjukkan bahwa status pekerjaan seseorang adalah harga diri dan kehormatan bagi siapapun yang menyandangnya. Semakin tinggi jabatan atau semakin bergensi sebuah pekerjaan akan mengangkat harga diri dan kehormatan seseorang. Setidaknya dengan status memiliki pekerjaan atau tidak menganggur (jobless), apapun pekerjaan itu, orang merasa telah dlindungi harga diri dan kehormatannya dari stigma sebagai pengangguran.

Dengan demikian, berbahagialah orang yang memiliki pekerjaan karena dengan pekerjaan itu harga dirinya bisa terangkat dan terlindungi. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Nabi Musa as. mempekerjakan dirinya sebagai buruh selama delapan tahun untuk menjaga kehormatan dirinya dan mendapatkan makanan (halal) bagi perutnya” (HR.Ibnu Majah). Dalam riwayat lain Nabi saw juga menegaskan bahwa hasil pekerjaan atau uang dari gaji yang didapatkan seseorang dari pekerjaannya, maka hal itu akan menjadi sedekah bila diberikan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. “Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya (bekerja) sendiri. Dan apa saja yang dinafkahkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak, dan pembantunya adalah sedekah” (HR. Ibnu Majah).

Bersyukurlah bagi mereka yang memiliki pekerjaan, apapun pekerjaan itu, yang penting  pekerjaan itu baik dan halal. Dengan pekerjaan itu ia akan terangkat derajatnya dan menjadi ladang pahala baginya karena jika diniatkan ibadah, maka nafkah dari hasil pekerjaan itu kepada keluarganya akan bernilai sedekah. Salah cara bersyukurnya adalah bekerja dengan sungguh-sungguh dan menjaga pekerjaan dan lembaga tempatnya bekerja dengan baik seperti halnya ia menjaga kehormatan dirinya.

 

Bekerja dengan Integritas dan Penuh Kompetensi

 

Banyak orang yang setelah mendapatkan pekerjaan melupakan hakikat bekerja dan kurang bersyukur terhadap pekerjaannya. Pekerjaannya sebatas status saja dan tidak mampu membawanya sebagai tangga untuk menaikkan spiritualitasnya. Bagi orang-orang seperti ini, jika pekerjaannya tidak memenuhi harapannya ia akan berputus asa dan kehilangan semangat untuk bekerja dengan penuh tanggungjawab dan kehilangan spirit kemajuan. Bekerja dengan kemalasan dan tidak produktif. Akhirnya pekerjaan yang merupakan bagian dari atribut harga dirinya tercerabut dan justru menjatuhkan kehormantannya,

Kata kunci bagi orang yang bekerja dan untuk sebuah pekerjaan adalah integritas dan kompetensi. Integritas adalah kunci pertama sebuah pekerjaan, karena dengan integritas yang baik maka semua pekerjaan dan beban yang diberikan akan dilaksanakan dengan penuh amanah dan tanggungjawab. Seorang pegawai atau pekerja yang berintegritas, terdapat dalam dirinya setidaknya tiga karakter, yaitu rajin beribadah dan menjalankan ajaran agamanya dengan baik, memiliki akhlak dan kepribadian yang karimah, dan memiliki sifat-sifat rohaniah yang menjadi bagian yang integral dalam dirinya seperti kejujuran, keadilan, rendah hati, tidak takabur, dan memberikan pelayanan dengan sepenuh hati.

Namun integritas saja tidak cukup, seorang pegawai atau pekerja harus juga memiliki kemampuan, pengetahuan dan keahlian dalam melaksanakan pekerjaannya. Pengetahuan, kemampuan dan keahlian dalam melaksanakan pekejaan itu yang dinamakan kompetensi. Pekerja yang baik akan terus berusaha menyesuaikan dirinya dengan tugas dan tanggungjawab yang diembannya. Caranya adalah mempelajari bidang pekerjaannya, berusaha belajar terus dan bekerja dengan sepenuh hati agar hasil pekerjaanya berkualitas, memiliki produktivitas yang tinggi serta memuaskan bagi mereka yang dilayani jika pekerjaan itu berhubungan dengan jasa pelayanan.

Integritas dan kompetensi seperti dua keping bagian dari koin mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus berjalan seiring dalam sebuah pekerjaan. Integritas saja tanpa kompetensi akan melahirkan pekerjaan tanpa kualitas dan produktivitas yang rendah, bahkan tidak memuaskan bagi orang yang dilayani. Namun kompetensi saja tanpa integritas akan menghasilkan orang-orang yang korup dan merusak sistem  serta tatanan yang baik dalam sebuah lembaga. Sebab itu, antara integritas dan kompetensi harus seiring dan menjadi atribut wajib bagi setiap pegawai atau pekerja dimanapun ia bekerja. Wallahu a’lam bishawab.

 

(Catatan: tulisan ini adalah disarikan dari amanah apel rutin Senin pagi bagi pegawai IAIN Metro. Semoga menjadi pengingat bagi penulis sebagai seorang pegawai dan memberi manfaat bagi pegawai lainnya).

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.