Waktu dan Tempat Dipersilakan?

bg dashboard HD

Remember that “variety is the spice of life.” Thus, add variety to meetings if time and location permit.”

 (English Teaching Forum, 2024)

metrouniv.ac.id – 25/12/2025 – 5 Rajab1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Jurai Siwo Lampung)

Ia membaca kutipan di atas, pada English Teaching Forum. Sebuah jurnal global yang diterbitkan oleh The United States Department of State, dan didistribusikan oleh Keduataan Amerika di seluruh dunia. Secara harafiah, kutipan di atas dapat diartikan: ‘Patut diingat bahwa ‘variasi adalah bumbu kehidupan’. Jadi, cobalah untuk membuat suasana rapat yang berbeda, jika waktu dan tempat mengijinkan.’

Ekspresi yang terakhir terakhir: ‘…jika waktu dan tempat mengijinkan’ sangat menarik. Ia menarik karena, pertama: waktu dan tempat adalah benda mati, yang secara logis tidak bisa melakukan aksi. Kedua, karena di Indonesia, kadang terdengar master of ceremonies (MC) berkata, ‘Waktu dan tempat dipersilakan’. Jelas, waktu dan tempat adalah benda mati, yang tidak bisa dipersilakan naik ke atas panggung. Karena sekali lagi, waktu dan tempat adalah benda mati. Keduanya tidak bisa ‘mengijinkan’, dan tidak mungkin bisa pula ‘dipersilakan’. Titik. No  debat! No ribet! No ribut!

Namun demikian, pernah di satu waktu, orang bertutur tentang kebenaran korespondensi. Tentang jenis kebenaran yang didasarkan pada kesesuaian antara bahasa dengan fakta. Tentang sesuatu yang menjadi benar karena sesuai dengan realitas di dunia nyata. Let’s say, ‘Martha makan nasi’ adalah benar karena Martha memang makan nasi, bukan makan beras. Sehingga, dalam pendekatan kebenaran korespondensi, ekspresi ‘waktu dan tempat dipersilakan’ terdengar kurang realistis. Tidak makes sense. Tidak sesuai dengan fakta, karena yang mestinya dipersilakan adalah ‘orang’ bukan ‘waktu dan tempat’. No ribet!

Di rentang waktu lainnya, orang juga pernah  bercerita tentang kebenaran pragmatis. Tentang sesuatu yang lebih fungsional dan kontekstual. Tentang sesuatu yang tidak perlu logis, namun dipahami oleh pembicara dan pendengar. For example, ‘Martha menanak nasi’. Nah, dari sudut kebenaran korespondensi, kalimat ini tidaklah benar. Karena faktanya yang ditanak adalah beras, bukan nasi. Namun, karena pembicara dan pendengar mengerti bahwa tujuan menanak beras adalah untuk menjadi nasi, maka jadilah kalimat ‘Martha menanak nasi’ itu benar secara pragmatis. No ribut!

Sementara itu, dalam kajian analisis wacana, misalnya oleh Raphael Salkie (1995), ada yang disebut dengan ellipsis. Yaitu, penghilangan kata, frase, atau klausa dari sebuah kalimat utuh. Penghilangan tersebut cenderung tidak mengurangi makna karena pendengar atau pembaca terbantu oleh konteks kalimat. Kira-kira dalam kasus ini, kalimat utuhnya bisa berbunyi: Kepada Bapak/Ibu, waktu dan tempat kami sediakan, dan Anda dipersilakan untuk naik ke panggung!  Lalu, elipsis datang dan menghilangkan beberapa unsur dari struktur kalimat utuh tersebut, menjadi: Waktu dan tempat, dipersilakan. Dan elipsis adalah penghilangan atau pelesapan unsur-unsur kalimat, yang dirasa sudah dipahami bersama.

Syahdan, ekspresi ‘waktu dan tempat, dipersilakan’, seperti membuka kembali perebedaan antara linguistik preskriptif dan linguistik deskriptif. Preskriptif berbicara tentang kaidah, benar-salah, tentang bagaimana bahasa seharusnya digunakan. Di titik ini, tata bahasa yang baku dan kebenaran korespondensi sangat diperhatikan. Sedangkan deskriptif, berfokus pada penggunaan bahasa secara aktual, secara riil di masyarakat, termasuk ‘waktu dan tempat, dipersilakan’. Sebaliknya, pada lapisan ini, konteks serta kebenaran pragmatis sangat diperhatikan. Secara definisi, preskriptif dan deskriptif tampak berlawanan. Namun, untuk memahami dan menguasai sebuah bahasa, keduanya jelas diperlukan.

Ia, tokoh kita, lantas terlihat membuat ihtisar. Semacam ringkasan, atau pandangan singkat tentang ‘waktu dan tempat dipersilakan’: “Kebenaran korespondensi dan kebenaran pragmatis, sesuatu yang tekstual dan kontekstual, atau preskriptif dan deskriptif, bisa muncul bersamaan. Ada yang tegas memilih salah satu sisi, ada juga luwes dan fleksibel memanfaatkan kedua sisi. Orang boleh bergerak seiring keperluan. Saat memerlukan akurasi fakta, sikap objektif dan ilmiah, maka digunakan kebenaran korespondensi. Manakala memerlukan efektivitas komunikasi, sikap lentur, dan sikap tidak menyalah-nyalahi apa yang telah menjadi praktik umum, maka diterapkan  kebenaran pragmatis.”

‘Alaa kulliy haal, bahasa bukan sekedar konfigurasi logika yang kaku. Bahasa bisa lentur, mengalir di antara apa yang tertulis-terdengar dan apa yang dipraktikkan secara riil. Kebenaran bahasa seperti bandul yang berayun: kadang mengarah ke sisi yang memerlukan fakta, kadang mengarah pada sisi yang mengedepankan kesepahaman. Perdebatan tentang “waktu dan tempat dipersilakan” hanyalah bukti bahwa bahasa bisa menjadi sesuatu yang kaku sekaligus luwes. Mereka yang mencintai sisi keluwesan dalam berbahasa, tidak akan menyalahkan MC yang berkata, ‘Waktu dan tempat dipersilakan’. Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.